Laporan Wartawan Tribun Medan, Arifin Al Alamudi
TRIBUNNEWS.COM MEDAN - PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) optimistis tahun 2013 bisa meraup keuntungan Rp 450 miliar. Target ini ditetapkan dalam Rapat Dinas Pelindo I yang dilaksanakan awal Februari lalu di Sibolangit, Deliserdang.
Tahun 2012 lalu, perusahaan yang menaungi Provinsi Aceh, Sumut, Riau, dan Kepulauan Riau ini berhasil meraup keuntungan Rp 342 miliar. Untuk mencapai target Rp 450 Miliar Pelindo I sudah menyiapkan beberapa strategi. Yakni meningkatkan kinerja dan potensi yang sudah ada selama ini.
"Dengan berbagai peluang dan potensi yang ada, kami yakin bisa mencapainya,” ungkap Direktur Utama Pelindo I, Alfred Natsir
Bukan sekedar target belaka, Alfred mengungkapkan bahwa Pelindo I mempunyai peluang yang sangat strategis karena Pelindo I mengelola pelabuhan di Pulau Sumatera bagian utara yang sangat kaya dengan produk perkebunan dan industri turunannya. Apalagi posisi georafisnya menghadap Selat Malaka yang merupakan alur pelayaran terpadat di dunia, serta bertetangga langsung dengan Malaysia dan Singapura yang perekonomiannya sudah maju.
ACS Humas Pelindo I M Eriansyah membeberkan ada tujuh strategi yang akan lakukan untuk mencapai target tahun 2013. Pertama, pengembangan terminal peti kemas di beberapa daerah, seperti Dumai, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Belawan, Batam, Sibolga, Lhokseumawe, dan Malahayati. Pasalnya, terminal peti kemas beberapa tahun belakangan ini merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar Pelindo I.
Kedua, pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai Hub Container Port atau pelabuhan pengumpul kontainer. Sejak tahun lalu pelabuhan yang terletak di Kabupaten Batubara memang mendapat perhatian besar dari Pelindo I. Bahkan mulai tahun 2014, pelabuhan ini akan dibangun untuk menjadi terminal kontainer terbesar di Indonesia dengan kapasitas 20 juta Twenty Foot Equivalent Units (TEUs).
Ketiga, pengembangan Terminal Curah cair di Dumai, Belawan, Kuala Tanjung, Kuala Langsa dan Nagan Raya Aceh. Keempat, pengembangan Terminal Curah Kering di Dumai, Belawan, Rengat, dan Kuala Tripa Nagan Raya Aceh.
Strategi kelima adalah mengembangkan Marine Services (jasa kelautan) di Kepulauan Riau, Tanjung Balai Karimun, Batam, Tanjungpinang, dan Dumai. Keenam, peningkatan status Unit Galangan Kapal (UGK) menjadi Provider alat-alat bongkar muat dan kapal tunda. Dan strategi terakhir adalah peningkatan status Belawan Logistic Center (BLC) menjadi Terminal Operator.
"Jika tujuh strategi itu bisa dilaksanakan dengan maksimal, jumlah Rp 450 miliar bagi Pelindo I tahun ini bukallah mimpi," jelas Eriansyah.
Selain untuk meraih keuntungan, tujuh strategi yang akan diterapkan Pelindo I ini juga untuk mendongkrak fasilitas dan pelayanan. Tujuannya adalah untuk mendorong sistem Pendulum Nusantara. Yakni sistem terintegrasi di mana operator pelabuhan dan para pemangku kepentingan menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat sampai timur Indonesia yang beroperasi seperti pendulum. Rute yang dimaksud akan melewati enam pelabuhan utama. Yakni Belawan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong.
"Tahun 2014 Pendulum Nusantara ini akan mulai dioperasikan. Jadi kita (Pelindo I) sudah harus menyiapkan diri sejak saat ini, baik dari segi pelayanan dan fasilitas," jelas Eriansyah.
Untuk penerapan sistem Pendulum Nusantara ini, Pelindo I akan bertanggungjawab mempersiapkan pelabuhannya. Sehingga, tambah Eriansyah, Pelindo I akan sangat serius menjalankan tujuh strategi tersebut demi memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Pengembangan secara berkelanjutan ini juga untuk mendukung suksesnya program pemerintah Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk menciptakan Konektivitas Nasional dan kelancaran Sistem Logistik Nasional.
Perluas Dermaga Peti Kemas
Dari ketujuh strategi yang akan dilakukan Pelindo I untuk mencapai target Rp 450 miliar, pengembangan Belawan International Container Terminal (BICT) mendapat perhatian yang cukup besar. Dermaga peti kemas yang kini mampu menampung 1,2 juta Twenty Foot Equivalent Units (TEUs) akan diperluas. Rencananya dermaga BICT akan perluas sepanjang 700 meter. Sehingga dermaga yang kini panjangnya 950 meter bisa bertambah menjadi 1.650 meter dan bisa menampung 2 juta TEUs.
ACS Humas Pelindo I M Eriansyah mengungkapkan pengembangan BICT tahun ini terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama akan dilakukan perluasan sepanjang 350 meter. Pembangunan tahap pertama ini merupakan kerjasama antara Pelindo I dengan Islamic Development Bank (IDB). Pembangunan tahap selanjutnya sepanjang 350 meter akan menggunakan modal investasi dari Pelindo I. Perluasan BICT ini diperkirakan memakan biaya seberat Rp 3 triliun.
Sedangkan perangkat peralatan untuk mendukung perluasan BICT sudah didatangkan dari Shanghai dan Finlandia. Yakni tiga unit Container Crane (CC) dan lima unit Ruber Tired Gantry (RTG).
"Dengan perluasan ini pelayanan peti kemas akan bisa lebih baik. Proses bongkar peti kemas dari kapal dulunya bisa mencapai delapan hari. Kini hanya satu setengah sampai dua setengah hari. Kalau sudah diperluas nantinya akan lebih cepat lagi," ujar Eriansyah.(rif/tribun-medan.com)
Baca tanpa iklan