TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dengan dimulainya tahapan konstruksi skala besar pada titik Istora dan Bendungan Hilir (Benhil), maka keseluruhan tahapan konstruksi skala besar untuk jalur bawah tanah (underground) proyek mass rapid transit (MRT) telah dimulai, setelah sebelumnya 4 (empat) titik lainnya telah mulai terlebih dahulu sejak April 2014.
Tercatat sebelumnya titik Bundaran HI dan Dukuh Atas sudah memulai konstruksi skala besar pada bulan April 2014, dan titik Senayan dan Setiabudi telah memulai konstruksi skala besar pada bulan Juli 2014 yang baru lalu.
Semua lokasi yang dilakukan konstruksi skala besar nantinya akan berfungsi menjadi stasiun bawah tanah MRT Jakarta yang juga akan terdiri dari 6 stasiun, yaitu Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran HI.
Seperti tahapan skala besar di 4 (empat titik sebelumnya), tahapan konstruksi skala besar yang dimaksud pada titik Istora dan Benhil adalah dimulainya tahapan penggalian dan pembangunan stasiun bawah tanah pada bagian median jalan. Tahapan ini akan menimbulkan konsekuensi pada perubahan lajur lalu lintas secara permanen selama kurang lebih dua tahun pada 6 titik bakal stasiun MRT bawah tanah tersebut.
Dono Boestami selaku Direktur Utama PT MRT Jakarta mengatakan bahwa dengan dimulainya tahapan penggalian stasiun bawah tanah di semua titik, menunjukkan bahwa Proyek MRT Jakarta terus menunjukkan progress yang nyata.
“Kami gembira bahwa tahapan penggalian stasiun bawah tanah atau konstruksi skala besar di Koridor Sudirman – Bundaran HI telah dimulai seluruhnya," ujar Dono dalam keterangannya, Selasa (12/8/2014).
Lebih lanjut dikatakannya bahwa sebagaimana yang dilakukan pada dua titik Senayan dan Setiabudi, bagian tengah median jalan di titik Istora dan Benhil juga akan ditutup secara permanen selama ± 2 tahun sebagai area kerja, dan lajur kendaraaan akan dibuat sedikit berbelok dengan memanfaatkan lokasi jalur hijau dan trotoar jalan yang sudah dikupas dan dilakukan pengerasan.
Walaupun dilakukan penutupan area median jalan secara permanen selama periode konstruksi tersebut, jumlah lajur kendaraan pada 6 titik lokasi tersebut akan tetap dipertahankan. "Dukungan dan pengertian masyarakat terus kami perlukan untuk bersama-sama memastikan proyek ini berlangsung sesuai rencana,” jelas Dono Boestami.
Baca tanpa iklan