Ringkasan Berita:
- Tugure Soroti Pentingnya Ketepatan Penetapan Sum Insured pada Business Interruption Insurance
- Tugure menegaskan peran aktifnya dalam meningkatkan kesiapan industri perasuransian Indonesia dalam menghadapi risiko Business Interruption
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapabilitas dan pengembangan wawasan pelaku industri perasuransian di Indonesia melalui program Tugure Academy.
Pada penyelenggaraan Sharing Session 2026, Tugure mengangkat topik Business Interruption: Gross Profit vs Revenue: Avoiding the Pitfalls of Misdeclared Sum Insured, yang membahas pentingnya pemahaman teknis dalam penetapan sum insured pada Business Interruption Insurance (BI).
Topik ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kompleksitas risiko bisnis yang dapat mengganggu keberlangsungan operasional perusahaan. Ketidaktepatan dalam penentuan nilai pertanggungan pada polis BI berpotensi menimbulkan kesenjangan perlindungan (under-insurance) maupun kelebihan pertanggungan (over-insured), yang pada akhirnya dapat memengaruhi besaran penggantian klaim.
Baca juga: Aset Asuransi BUMN Ini Tumbuh 347 Persen, Ditopang Pengelolaan Dana Pensiun
Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan dari 18 perusahaan mitra cedant ini menghadirkan Aries Karyadi, Property and Engineering Group Head Tugure, sebagai pembicara utama.
Dalam sesi diskusi, Aries menekankan bahwa penetapan Sum Insured pada Business Interruption Insurance perlu didasarkan pada Gross Profit yang dapat dipertanggungkan, bukan semata-mata pada Revenue atau Turnover.
“Kecermatan dan ketepatan penentuan BI akan mereduksi kesalahan penentuan dari under ataupun over insured. Hal ini tentunya akan membuat penentuan jumlah pertanggungan lebih presisi,” ujar Aries di tengah diskusi, ditulis Senin (1/6/2026).
Pembahasan dalam sesi ini menyoroti berbagai potensi risiko yang timbul akibat ketidaktepatan deklarasi nilai pertanggungan, termasuk dampak penerapan Average Clause terhadap besaran penggantian klaim.
Selain itu, pentingnya mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan usaha dan penentuan periode indemnity yang sesuai juga menjadi fokus pembahasan guna memastikan kecukupan perlindungan dan mengurangi potensi under-insurance.
Tugure juga membagikan pembelajaran dari berbagai klaim BI besar di pasar sebagai upaya meningkatkan kualitas underwriting, penentuan sum insured, dan pemahaman klaim. Langkah ini diharapkan dapat membantu perusahaan asuransi, broker, maupun reasuransi dalam meminimalkan potensi sengketa dan financial gap akibat under-insurance ketika terjadi kerugian besar.
“Acara sharing session ini merupakan agenda rutin dari Tugure yang diselenggarakan setiap tahun. Kami berupaya menghadirkan suasana yang berbeda untuk menunjang kegiatan ini. Pada pelaksanaan kali ini, kami ingin memberikan pengalaman sharing session yang dilakukan di Kereta Api Wisata dari KAI,” ujar Nur Falah, Investment Group Head Tugure, dalam sambutannya.
Melalui kegiatan ini, Tugure menegaskan peran aktifnya dalam meningkatkan kesiapan industri perasuransian Indonesia dalam menghadapi risiko Business Interruption (BI).
Didukung oleh kapabilitas reasuransi yang kuat serta pengalaman yang luas, Tugure terus berperan sebagai mitra strategis bagi industri dalam memperkuat ketahanan terhadap berbagai risiko dan mendorong kolaborasi berkelanjutan demi terciptanya ekosistem asuransi yang lebih tangguh.
Baca tanpa iklan