TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perum Bulog menghormati penyampaian aspirasi yang dilakukan para petani tebu dan elemen masyarakat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah terkait dinamika operasional industri gula di wilayah tersebut.
Bulog memahami bahwa aktivitas pergulaan memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat, khususnya bagi petani tebu, tenaga kerja, pelaku transportasi, dan berbagai aktivitas usaha lainnya.
Dalam rangka menjaga kelancaran proses penyaluran hasil tebu petani, Bulog saat ini terus melakukan koordinasi dan fasilitasi bersama berbagai pihak terkait sesuai peran, kewenangan, dan ketentuan yang berlaku.
Fokus utama saat ini adalah menjaga situasi tetap kondusif, mendukung kelancaran aktivitas masyarakat, serta mendorong komunikasi yang konstruktif antara seluruh pemangku kepentingan.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Perum BULOG Tomi Wijaya menyampaikan, Bulog mengedepankan pendekatan dialogis serta terbuka terhadap berbagai masukan dan aspirasi masyarakat.
“Kami menghormati aspirasi yang disampaikan masyarakat dan terus berupaya melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mendukung kelancaran penyaluran hasil tebu petani serta menjaga situasi tetap kondusif,” ujar Tomi dikutip Senin (1/6/2026).
Baca juga: Bulog: Serapan Gabah Petani Per Mei 2026 Hampir 3 Juta Ton
Bulog juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan suasana yang kondusif agar proses komunikasi dan penanganan di lapangan dapat berjalan dengan baik.
Menurutnya, Bulog akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait dalam mendukung keberlangsungan ekosistem pergulaan nasional secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Aksi Demontrasi
Petani tebu Blora menggelar aksi demonstrasi tumpah tebu di depan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan, Blora, Jawa Tengah, Senin (1/6/2026).
Ini merupakan demo jilid kedua, setelah demo pertama digelar pada Kamis (2/4/2026) lalu, di Alun-alun Blora.
Aksi "tumpah tebu" itu menjadi lanjutan dari demonstrasi sebelumnya sebagai bentuk protes atas belum terpenuhinya tuntutan petani terkait penyerapan hasil panen tebu.
Selain itu, aksi ini juga sebagai bentuk protes untuk menagih janji terhadap Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, yang sempat menjanjikan penyerapan tebu petani tebu Blora Mei 2026.
Seorang petani tebu yang ikut aksi, Anton Sudibdyo, mengatakan demonstrasi kali ini merupakan aksi jilid II yang lahir dari kekecewaan petani terhadap respons pemerintah dan pihak terkait yang dinilai belum memberikan solusi konkret.
Baca juga: Pemerintah Didorong Membentuk Bulog Ikan di Wilayah Perairan Potensial Indonesia
"Ini bentuk kemarahan yang sudah sangat kronis. Pada dasarnya respons pemerintah betul-betul mengecewakan. Kita merasa dibohongi, diberi janji-janji saja, tetapi eksekusinya tidak ada," kata Anton, saat ditemui di sela-sela aksi dikutip dari TribunJateng.
Baca tanpa iklan