News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Penjelasan BI soal Penguatan Rupiah

Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas memperlihatkan pecahan dolar AS yang akan ditukarkan di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Kawasan Blok M, Jakarta, Senin (24/8/2015).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sudah sepekan ini, nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Pada Jumat (9/10/2015), rupiah langsung melompat pada awal perdagangan di pasar spot hingga ke kisaran level 13.400.

Bahkan berdasarkan data Bloomberg, pukul 11.30 WIB tadi, mata uang garuda sempat nangkring di posisi 13.289.

Bank Indonesia (BI) menyatakan, penguatan rupiah itu, khususnya yang terjadi hari ini, bukan hanya disebabkan faktor eksternal saja, melainkan ada andil perbaikan fundamental di dalam negeri.

"Kelihatan bahwa penguatan rupiah yang sampai 4,4 persen dibandingkan kurs Korea atau Thailand itu menunjukkan bahwa penguatan pada hari ini bukan hanya faktor eksterrnal yang mendorong tapi memang ada faktor fundamental dari Indonesia," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kantor BI.

Menurut dia, faktor domestik yang mempengaruhi penguatan rupiah yaitu sudah nampaknya keyakinan investor dengan kondisi perekonomian saat ini. Apalagi, pemerintah kata dia telah melakukan reformasi struktural yang serius.

"Insya Allah ada paket (kebijakan) keempat. Insya Allah untuk debirokratisasi dalam rangka mendukung investasi masuk. Devisa masuk mendorong terciptanya empowerment pemerintah sehingga mendorong sektor riil," kata dia.

Meski begitu, BI juga tak menampik adanya pengaruh adanya risalah dari Bank Sentral AS, The Fed, yang menyebutkan bahwa data perekonomian AS melemah sehingga kenaikan suku bunga tak akan terjadi pada tahun ini.

Dibandingkan mata uang negara lain, penguatan hupiah hari ini kata Mirza cukup baik. Sampai sebelum Shalat jumat tadi, rupiah menguat 4,4 persen, ringgit Malaysia 3,4 persen, won Korea 1,2 persen, Taiwan 1,1 persen, dan baht Thailand 0,4 persen.(Yoga Sukmana)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini