News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Wapres: Agar Lebih Terbuka dan Dapat Modal Murah, 2016 Mesti Lebih Banyak BUMN IPO

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) didampingi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad (kedua kiri), dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio (kiri) menutup perdagangan bursa saham akhir tahun di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2015). IHSG sempat menyentuh level tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia di level 5.518 pada 31 Maret 2015, dan menyentuh level terendah di kisaran 4.120 pada 28 September 2015. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Laporan Wartawan TRIBUNnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Pemerintah mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan Initial Public Offering (IPO) pada 2016 mendatang.

Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla, mengatakan hal itu dibutuhkan agar perusahaan plat merah bisa mendapatkan modal lebih.

"Ya karena itu juga cara mencari modal yang lebih murah," kata Jusuf Kalla kepada wartawan, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Rabu (30/12/2015).

Selain selain untuk mendapatkan modal lebih, Jusuf Kalla menilai langkah IPO juga dibutuhkan agar BUMN bisa lebih transparan dalam pengelolaan uangnya.

"Karena kalau (statusnya) Tbk (terbuka) itu pasti transparansinya lebih tinggi, dibanding yang tertutup," jelasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, setidaknya ada 8 BUMN yang akan diprivatisasi. Hal itu dituturkan oleh Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius K. Ro.

Sementara itu Direktur Utama BEI Tito Sulistio, menyebut seharusnya lebih dari 8 BUMN yang diprivatisasi. Ia menyayangkan ternyata hingga kini cuma ada 8 BUMN yang lolos uji IPO.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini