"Saat ini di sektor infrastruktur, seperi Jasa Marga, PLN juga akan menyusul. Ini kan sebagai alternatif pendanaan bagi BUMN menerbitkan sekuritisasi dalam bentuk piutang," ujar Lana saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (1/8/2017) melalui telepon.
Lana menambahkan, kenapa baru sekarang BUMN "pecah telor" menerbitkan produk sekuritisasi, padahal sebetulnya gelombang sekuritisasi sudah ada dari 10 tahu yang lalu sudah dimulai BTN, ia mengatakan adanya kekhawatiran ketika suatu saat akan dijual ke investor tapi tidak laku, maka asetnya tersebut akan hilang. Sehingga kurang diminati oleh perusahaan.
" Tapi yang juga harus diperhatikan, jangan sampai nantinya ini akan menjadi ajang rebutan dana publik," kata Lana.
Baca tanpa iklan