News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tahun 2017, Matahari Putra Prima Bukukan Rugi Rp 1,24 triliun

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suasana Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai, Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Laporan Reporter Kontan, Agung Jatmiko, Dian Sari Pertiwi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kinerja PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sepanjang tahun lalu kurang menggembirakan. Perusahaan berkode emiten MPPA ini mencatatkan penurunan penjualan serta menorehkan rugi bersih sepanjang 2017.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/4), MPPA mencatatkan penjualan sebesar Rp 12,56 triliun pada tahun lalu.

Penjualan peritel fesyen ini turun 7,13% dibandingkan kinerja 2016 yang mencapai Rp 13,52 triliun.

Dalam akun penjualan, pencapaian penjualan langsung turun 7,22% menjadi Rp 12,46 triliun.

Meski penjualan konsinyasi naik, namun peningkatannya dibarengi pula dengan kenaikan biaya konsinyasi, sehingga menekan angka penjualan bersih.

Kinerja penjualan yang turun ini turut diperburuk dengan bertambahnya beban yang harus ditanggung perusahaan, mulai dari beban pokok penjualan, beban penjualan serta beban umum dan administrasi.

Beban pokok naik dari Rp 11,233 triliun menjadi Rp 11,559 triliun pada tahun lalu.

Alhasil, kinerja bottom line tergerus. MPPA mencatatkan rugi bersih Rp 1,24 triliun pada tahun lalu. Padahal, pada 2016, perusahaan masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp 38,48 miliar.

Baca: Kisah Restorasi BMW E30 Tampil Orisinil Berbiaya Rp 500 Juta, Komponen Full Baru dari Jerman

Baca: Tahapan Penyelenggara Teknologi Finansial Melalui Regulatory Sandbox Menurut BI

Total aset juga menyusut dari Rp 6,7 triliun menjadi Rp 5,4 triliun. Meski begitu, total kewajiban turun tipis dari Rp 4,27 triliun menjadi Rp 4,27 triliun.

Tahun ini, MPPA juga berencana melakukan rights issue dengan target perolehan dana sebesar Rp 801,80 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja, peremajaan dan membayar utang pokok kepada Bank of China.

Jika tak ada aral melintang, pencatatan saham hasil rights issue akan dilakukan pada 9 April mendatang di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini