Ringkasan Berita:
- Anggota DPR Sarifah Suraidah Harum prihatin atas anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak dalam beberapa pekan terakhir.
- Kondisi ini dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di berbagai daerah.
- Akibat melimpahnya pasokan yang tidak diimbangi daya serap pasar dan rendahnya daya beli masyarakat.
- Sarifah mendesak Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera mengambil langkah konkret
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar, Sarifah Suraidah Harum, menyampaikan keprihatinannya atas anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di berbagai daerah akibat melimpahnya pasokan yang tidak diimbangi daya serap pasar dan rendahnya daya beli masyarakat.
Sarifah mendesak Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera mengambil langkah konkret bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyelamatkan peternak lokal, salah satunya melalui optimalisasi penyerapan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
”Turut prihatin, karena ini menyangkut kelangsungan UMKM yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Dengan harga telur yang turun saat ini, maka dampaknya cukup signifikan bagi peternak. Harus ada langkah konkret untuk menyelamatkan usaha di tingkat peternak,” kata Sarifah kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, tingginya produksi telur ayam nasional saat ini tidak mampu diimbangi dengan permintaan pasar yang memadai.
Akibatnya, harga telur di tingkat peternak terus merosot jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.
Baca juga: Prabowo Akui Micromanager: Saya Telepon Menteri Jam 5 Pagi Tanya Harga Telur
Awal bulan ini, harga telur ayam di tingkat peternak bahkan sempat menyentuh Rp20.400 per kilogram.
Sementara saat ini harga masih berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp22.800 per kilogram, padahal HAP pemerintah berada di angka Rp26.500 per kilogram.
”Ini masalah tata niaga yang harus segera diurai oleh Kementerian Perdagangan. Sebagai Mitra Kerja Kemendag, Komisi VI DPR mendorong ada upaya konkret untuk menjaga rantai pasok dan permintaan telur di masyarakat menjadi stabil kembali dalam waktu dekat. Produksi telur di tanah air cukup kuat untuk menopang ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Legislator dari Daerah Pemilihan Kalimantan Timur itu juga meminta Kemendag membangun kesepakatan strategis dengan BGN guna memprioritaskan penyerapan stok telur dari peternak lokal untuk mendukung pelaksanaan program MBG.
Selain itu, Sarifah mendorong lahirnya regulasi yang lebih tegas dan integratif demi menjaga keberlangsungan ekosistem perunggasan nasional dari hulu hingga hilir sesuai arahan Fraksi Partai Golkar DPR RI.
"Kami meminta Kemendag segera berkoordinasi secara intensif dengan BGN untuk menghidupkan dan mengarahkan skema program MBG agar memprioritaskan stok dari peternak lokal. Menyelamatkan sektor perunggasan nasional bukan hanya soal menjaga stabilitas harga, tetapi juga melindungi mata pencaharian jutaan peternak di daerah," pungkasnya.
Baca tanpa iklan