Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kementerian Keuangan membahas fenomena kemungkinan akan masuknya mata uang digital di sebuah negara yang sekarang dibuat bersama oleh beberapa pihak dengan nama cryptocurrency atau mata uang kripto.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyinggung terkait kripto memunculkan kompetisi di antara si pemilik, di antaranya keterlibatan Elon Musk.
"Ke depan ini, kompetisi mengenai ini (mata uang kripto) akan muncul terus. Makanya kan kalau kita lihat kayak Elon Musk ngomongin mengenai mata uang kriptonya boleh membeli saham Tesla dan lainnya," ujarnya dalam acara Webinar Nasional Seri II: "Kebijakan Pemerintah, Peluang, Tantangan, dan Kepemimpinan di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19", Selasa (15/2021).
Baca juga: OJK: Hacker Mulai Gentayangan ke Lembaga Keuangan, Minta Bayaran Kripto
Sri Mulyani, kripto merupakan bukan mata uang resmi suatu negara, melainkan individual yang dinilai mengganggu kedaulatan.
"Persoalannya adalah setiap negara yang berkedaulatan biasanya menempatkan bank sentral sebagai penguasa atau yang memiliki kekuatan negara untuk mengatur mata uang," katanya.
Baca juga: Sri Mulyani Ajak BI dan OJK Diskusi Soal Pajak Investor Kripto
Selain Elon Musk, dia menambahkan, beberapa waktu lalu sempat juga Facebook dan perusahaan digital di Amerika Serikat lain mau membuat mata uang sendiri.
Hal itu dianggap menjadi ancaman terhadap mata uang fisik yang dimiliki suatu negara dan lembaga yang mengatur jumlah uang beredar.
"Ini menjadi satu isu yang kami bahas di KSSK dan G-20. Namun, kalau melihat fenomena di dunia, ada beberapa negara lakukan piloting di suatu daerah, di antaranya China, mata uangnya diubah jadi digital dari sebelumnya kartal," pungkas Sri Mulyani.