Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Nilai tukar euro terjun ke level terendahnya dalam dua dekade terakhir hari ini, Kamis (7/7/2022), sementara pergerakan saham di lantai bursa cenderung melemah karena kekhawatiran resesi ekonomi yang meningkat.
Dikutip dari Reuters, Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,3 persen pada awal perdagangan hari ini. Sementara Nikkei Jepang naik 0,7 persen.
Indeks S&P 500 bergerak datar, setelah semalam naik 0,4 persen. Imbal hasil Treasury dua tahun naik 14 basis poin semalam dan melambung 2,9692 persen di sesi perdagangan Asia.
Sedangkan imbal hasil Treasury 10 tahun naik 2,9206 persen, menunjukkan pasar obligasi mengalami perlambatan pertumbuhan karena kenaikan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed).
Data pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan, lowongan pekerjaan lebih tinggi dari yang diharapkan.
Data berikutnya akan dirilis pada Jumat (8/7/2022) mendatang, yang akan mengungkap angka pasar tenaga kerja yang lebih luas, sehingga dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai keadaan ekonomi AS.
Baca juga: Rusia Ancam Pangkas Pasokan Bahan Bakar ke Jepang, Saham Mitsui dan Mitsubishi Langsung Anjlok
"Ujian lakmus berikutnya untuk arah imbal hasil yang akan menjadi pidato Bullard dan Waller, yang harus menjelaskan lebih banyak pemikiran tentang kubu hawkish dalam (Fed)."
Apakah mereka condong ke dalam ketakutan resesi atau terus menekan bahwa Fed harus pergi di atas netral secepat mungkin dan menahan inflasi tidak peduli biaya untuk pertumbuhan?" kata ahli strategi suku bunga di NatWest Markets, Jan Nevruzi.
Baca juga: Rusia Dihajar Sanksi Ekonomi, Kurs Rubel Malah Melesat ke Level Tertinggi
Pernyataan Nevruzi merujuk pada Presiden The Fed St Louis, James Bullard dan Gubernur The Fed. Christopher Waller yang keduanya akan memberikan pernyataan hari ini pukul 17:00 GMT.
Sementara penurunan nilai tukar mata uang euro hari ini mengikuti penurunan yang terjadi pada Selasa (5/7/2022) lalu, karena melonjaknya harga gas di Eropa yang memperdalam kekhawatiran resesi di negara-negara industri Eropa.
Melansir dari DW.COM, pertumbuhan ekonomi di zona euro sebelumnya sudah anjlok akibat perang di Ukraina, dengan harga-harga melonjak dan mendorong angka inflasi terus naik.
Baca juga: Bursa Saham Eropa Melemah, Sentimen Negatif Pasar Berlanjut
Nilai tukar euro berada di level terendahnya sejak Desember 2022, menyentuh 1,0202 dolar AS pada hari ini.
Turunnya nilai tukar euro diakibatkan tingginya kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya resesi di 19 negara yang menggunakan mata uang ini.
Data-sata survei menunjukkan perlambatan pertumbuhan bisnis di seluruh zona euro. Indikator menunjukkan kawasan itu dapat tergelincir ke jurang resesi karena tingginya biaya hidup yang dapat menekan permintaan konsumen.
Baca tanpa iklan