News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Jaga Kepercayaan Investor dan Nilai Tukar Rupiah

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Teller memperlihatkan pecahan uang Rupiah baru di Kantor Layanan Utama Bankaltimtara

Pengamat Pasar Uang Lukman Leong menilai rupiah menguat di tengah sentimen risk on di pasar ekuitas dan koreksi profit taking pada dolar AS.

Menurutnya, penguatan mata uang garuda juga dipengaruhi penantian pasar terhadap intervensi bank sentral.

“Rupiah menguat didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga BI pada pertemuan 24 April mendatang,” tutur Lukman kepada Tribun Network, Kamis (18/4/2024).

Pada perdagangan hari ini indeks dolar melemah ke level 1804.24.

Intervensi Bank Indonesia untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan sangat dinantikan pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada pertemuan dewan gubernur (RDG) BI pada 23-24 April 2024 pekan depan.

Menurutnya, BI Rate akan dinaikkan sebesar 25 basis poin demi menjaga stabilitas mata uang rupiah.

“Sehingga dalam pertemuan di bulan ini Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin guna menstabilkan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim.

Dia mengatakan usai libur lebaran 2024, rupiah terus tertekan imbas penguatan indeks dolar AS.

Ditambah lagi memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah, membuat pelaku pasar menghindari negara berkembang termasuk Indoensia dan beralih ke instrumen yang dianggap paling aman atau safe haven.

Dalam catatannya, Ibrahim berpandangan saat ini pasar masih mengamati momentum Ramadan dan Lebaran yang diyakini dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi domestic sebesar 0,14-0,25 persen poin (ppt).

Di kuartal pertama 2024 ekonomi Indonesia berpeluang untuk tumbuh di kisaran 5,0 – 5,1 persen.

Adapun sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut adalah meningkatnya belanja pemerintah terutama terkait bansos dan pelaksanaan Pemilu.

Seperti diketahui belanja negara sampai dengan 15 Maret 2024, naik 18,1 persen yoy.

Adanya low-base effect dari kuartal pertama 2023 karena periode terlama Ramadan bergeser dari April pada tahun lalu (triwulan kedua) menjadi Maret pada tahun ini (triwulan pertama).

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini