"Saat ini harga berada di kisaran 3.245 dolar AS per troy ons, dan bisa turun lebih dalam ke level 3.185 dolar AS, bahkan menyentuh 3.150 dolar AS per troy ons jika tekanan berlanjut,” kata Ibrahim di Jakarta, Senin (12/5/2025).
Menurutnya, sejumlah faktor fundamental dan geopolitik menjadi penyebab utama tekanan ini. Salah satunya adalah pernyataan terbaru dari pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang mengindikasikan bahwa penurunan suku bunga belum akan terjadi dalam waktu dekat.
"Selama The Fed masih mempertahankan sikap hawkish dan dolar AS tetap menguat, maka emas akan terus kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai," jelasnya.
Dia juga mencatat bahwa tensi geopolitik yang sempat mendongkrak harga emas beberapa waktu lalu kini mulai mereda, membuat investor kembali melirik aset-aset berisiko dan meninggalkan emas.
Baca tanpa iklan