TRIBUNNEWS.COM - Generasi Z (Gen Z) tumbuh di era di mana arti “rumah impian” telah bergeser. Memiliki rumah pribadi ternyata belum menjadi prioritas utama bagi generasi tersebut.
Fenomena ini bukan disebabkan karena Gen Z tidak ingin punya rumah pribadi, tapi karena ada faktor pertimbangan lain, salah satunya biaya. Melansir Kompas.id, berdasarkan data, sebanyak 81 juta generasi muda di Indonesia diperkirakan belum memiliki rumah, terutama karena keterbatasan finansial.
Harga rumah yang terus melambung juga tidak sebanding dengan pendapatan Gen Z yang cenderung stagnan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata gaji masyarakat Indonesia per Februari 2025 hanya Rp 3.094.818 per bulan.
Padahal, kalau soal investasi, Gen Z adalah generasi yang lebih melek dibandingkan generasi pendahulunya. Mereka lebih mudah untuk berinvestasi berkat digitalisasi finansial yang makin canggih.
Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan platform kripto lokal per September 2024 bahkan menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen investor kripto di Indonesia diisi oleh rentang usia 18-30 tahun, yang sebagian besar adalah Gen Z.
Selain lebih memilih untuk berinvestasi, Gen Z juga punya gaya hidup yang dinamis dan lebih fleksibel serta perspektif finansial yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Filosofi keuangan mereka banyak dipengaruhi tren, seperti gerakan untuk mencapai kebebasan finansial lebih cepat, bukan agar bisa berhenti bekerja sepenuhnya, tetapi supaya bisa hidup dengan pilihan yang lebih bebas.
Contohnya adalah Davin, seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun. Dalam episode Podcast Ruang Ratih dari Semen Merah Putih yang mengambil tema “Gen Z Bicara Prioritas, Punya Rumah: Penting atau Gak?”, Davin mengaku bahwa rencana hidupnya dalam jangka pendek adalah menyelesaikan studi S2 dan dalam jangka panjang adalah ‘Bisa Financial Independence, Retire Early alias FIRE’.
“Yang paling penting buat gue adalah bagian ‘F-I’ atau Financial Independence-nya. Financial Independence buat gue adalah kebebasan untuk memilih pekerjaan based on passion and impact, bukan semata-mata karena nominal gajinya,” ungkap Davin.
Gen Z juga enggak keberatan untuk mengalokasikan uang untuk gaya hidup. Menurut survei YouGov Indonesia, tiga besar pengeluaran Gen Z adalah kecantikan dan perawatan pribadi (21 persen), busana (20%), serta makan di luar (14%).
Misalnya Anya, seorang Content Creator berusia 25 tahun, yang mengaku rencana short term-nya adalah travelling dan explore ke tempat-tempat estetik dan indah. Saat ditanya kenapa ia memprioritaskan hal tersebut, Anya mengatakan yang penting adalah pengalaman.
Menariknya, rencana Anya untuk jangka panjang adalah menikah. Akan tetapi ketika ditanya apakah ia sudah menyiapkan rumah untuk pernikahan nanti, Anya mengaku belum terpikir untuk memilikinya.
“Saat ini sih belum ada persiapan ya. In this economy, kayaknya prioritas sudah bergeser. Selain mungkin masalah housing, ada yang lebih pilih investasi di experience. Makanya traveling juga jadi prioritas banyak orang saat ini karena bagi kita experience is currency, right?” sebut Anya.
Baca juga: Rumah Flat, Solusi Hunian Terjangkau di Tengah Mahal dan Sempitnya Lahan Kota
Sedangkan, Davin berpendapat masih banyak juga pilihan hunian lain yang membutuhkan budget lebih kecil dibanding membeli rumah, seperti menyewa apartemen atau ngekos. Menurutnya, sisa budgetnya nanti bisa diinvestasikan ke instrumen lain.
“Pilihan investasi sekarang jauh lebih banyak dan menguntungkan, mulai dari saham sampai angel investor untuk startup,” sebut Davin.
Gen Z dan Rumah Impian: Lebih dari Sekedar Hunian
Jika dulu generasi X melihat rumah sebagai simbol kemapanan dan investasi paling aman, bagi Gen Z, memiliki rumah bukan lagi kebutuhan mendesak. Sebagian dari mereka lebih memilih menyewa daripada membeli rumah karena gaya hidup yang dinamis dan fleksibel.
Meski begitu, bukan berarti Gen Z menolak kepemilikan rumah. Mereka hanya ingin mencapainya dengan cara dan waktu yang lebih sesuai ritme hidupnya.
“Kalau belum siap, ya belum beli,” begitu kira-kira prinsip yang banyak dipegang. Mereka akan membeli rumah kalau sudah benar-benar mampu, yang sesuai dengan gaya hidup yang mereka mau, karena rumah bagi mereka juga jadi tempat yang menunjang produktivitas.
Beberapa Gen Z mengharapkan bisa punya rumah dengan fasilitas yang memadai, akses mudah, dan membuat hidup lebih nyaman. Bahkan, Survei Deloitte pada tahun 2025 menyebut 80% Gen Z rela membayar lebih untuk rumah dengan sertifikasi hijau.
Anya pun menyebut memiliki rumah sendiri tetap penting. “Soalnya gue masih punya impian untuk menciptakan ruang personal gue sendiri, tinggal di rumah sendiri juga bikin nyaman dan aman, serta jadi representasi siapa gue dan keluarga gue,” sebutnya.
“Rumah itu harus mendukung semua produktivitas kita dan fungsinya bisa melebur jadi kantor, tempat hiburan, sampai tempat usaha, dan lain-lain. Jadi batas antar ruang bisa lebih cair,” kata Davin, yang menyebut bahwa makna rumah adalah awal membangun masa depan.
Obrolan dengan Anya dan Davin menunjukkan perbedaan prioritas Gen Z dalam membeli dan memiliki rumah sendiri. Di tengah ketidakpastian ekonomi, memiliki hunian sendiri menjadi langkah awal menuju kemandirian finansial. Karenanya, Gen Z merasa membeli rumah akan tiba waktunya jika sudah mampu.
Ingin tahu lebih banyak obrolan tentang rumah impian? Simak lebih lanjut diskusinya di Podcast Ruang Ratih, episode 1, tanggal 17 Oktober 2025, hanya di kanal Youtube Semen Merah Putih.
Baca juga: Rumah Impian Milenial: 4 Faktor Ini Jadi Pertimbangan Penting!
Baca tanpa iklan