News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik Didanai dari Patriot Bond 

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SAMPAH DIOLAH JADI LISTRIK - Contoh proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang telah sukses dikerjakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Sebanyak 1.300–1.500 ton sampah per hari diolah di TPA Benowo menjadi energi listrik.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Danantara Indonesia akan menggunakan sebagian dana hasil penerbitan Patriot Bond untuk membiayai proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WtE).

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengungkap pihaknya memang telah menyiapkan sebagian dana Patriot Bond untuk mendukung proyek WtE.

Namun, ia belum membeberkan secara rinci berapa nilai yang akan dialokasikan

Patriot Bond adalah surat utang perdana yang diterbitkan Danantara dan terdiri atas dua seri, yakni berjangka tenor lima tahun dan tujuh tahun.

Kedua seri Patriot Bond akan menawarkan kupon sebesar 2 persen. Tingkat kupon itu jauh di bawah suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di kisaran 5,8 persen serta lebih rendah dibandingkan obligasi pemerintah sejenis dengan imbal hasil sekitar 6,1 persen.

"Patriot Bond bisa dipakai. Kami sudah sebut dari awal akan menggunakan dana Patriot Bond salah satunya sebagian untuk ini (proyek WtE). Nanti kami akan diskusikan," katanya di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (3/11/2025).

Untuk skema pembiayaan proyek WtE sejumlah perbankan telah menyatakan tertarik bergabung di proyek ini.

Perbankan yang tertarik pun tidak hanya dari Himpunan Bank Negara (Himbara) atau bank-bank BUMN, tetapi juga bank swasta nasional dan internasional.

"Banyak sekali dari luar negeri, banyak juga bank-bank dalam negeri di luar Himbara yang sangat tertarik. Kami akan mencari mana yang terbaik untuk setiap proyek," ujar Pandu.

Komposisi pembiayaan proyek umumnya terdiri atas 70 persen pendanaan dari perbankan (debt) dan 30 persen dari ekuitas (equity).

Pandu menilai tingginya minat sektor swasta dan lembaga keuangan untuk terlibat merupakan bukti adanya efek crowding in dari proyek-proyek yang digarap Danantara.

Baca juga: Danantara: TOBA Tak Ikut Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi

Crowding in merupakan istilah ketika investasi publik atau lembaga negara mampu menarik investasi swasta dan lembaga keuangan lain untuk masuk.

"Jadi ini bagus sekali dari sisi capital formation, banyak sektor swasta dan bank-bank asing dan [bank swasta dari] dalam negeri yang ingin ikut. Ini salah satu contoh crowding in dari proyek Danantara," ucap Pandu.

Sebagai informasi, proyek Waste to Energy (WtE) yang digarap Danantara akan dijalankan di 33 area di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, terdapat tujuh kota yang telah ditetapkan sebagai lokasi pertama, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Bali, Bekasi, dan Tangerang.

Baca juga: Danantara Minta Perusahaan Asing Berinvestasi di Proyek Sampah Jadi Energi Gandeng Perusahaan Lokal

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini