TRIBUNNEWS.COM - Sebuah negara dikatakan memiliki perputaran ekonomi yang baik jika kemakmuran tak berhenti di satu titik. Rantai ekonomi yang berkembang secara berkelanjutan mengalir dari tangan produsen besar ke petani di ladang, sopir logistik yang mengantar hasil panen, hingga ke pemilik toko kecil di sudut desa. Konsep seperti ini dinamakan shared prosperity atau ekonomi kerakyatan.
Ekonomi Kerakyatan ini pun terlihat jelas dalam studi yang dilakukan Litbang Kompas mengenai kontribusi Industri Hasil Tembakau (IHT) dari hulu ke hilir terhadap perekonomian nasional. Studi ini juga menyoroti peran salah satu pelaku utama sektor IHT, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).
Dengan menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif, Litbang Kompas memberikan gambaran menyeluruh mengenai kontribusi IHT dan HMSP terhadap perekonomian nasional dengan rentang waktu dari tahun 2015–2024, yang menunjukkan dinamika regulasi dan transformasi industri hasil tembakau selama satu dekade terakhir.
Peran Strategis IHT dalam Lanskap Ekonomi Indonesia
Hasil studi menunjukkan bahwa IHT memiliki posisi strategis dalam lanskap ekonomi Indonesia, tidak hanya sebagai bagian dari sektor industri pengolahan, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas ekonomi lintas sektor. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa IHT merupakan salah satu sektor yang secara konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan riset Litbang Kompas, IHT menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pengolahan. Angka ini menempatkan IHT di jajaran 10 sektor utama yang menjadi tulang punggung industri pengolahan di Indonesia.
Selain kontribusi terhadap PDB, IHT juga menunjukkan daya ungkit tinggi terhadap ketenagakerjaan. Dalam klasifikasi sektor padat karya, IHT termasuk dalam tiga sektor penyumbang PDB industri pengolahan terbesar, dengan kapasitas menyerap jutaan pekerja.
Litbang Kompas mencatat bahwa industri ini menciptakan sekitar 2,6 juta lapangan kerja. Jika memperhitungkan rantai nilai dan sektor terkait, jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 6 juta orang, baik formal maupun informal.
Angka ini tidak hanya menunjukkan kapasitas daya serap tenaga kerja, tetapi juga memperkuat posisi IHT sebagai sistem ekonomi yang inklusif dan terintegrasi.
Baca juga: Kemnaker Gandeng Sampoerna Pulihkan Tenaga Kerja lewat Program Peduli PHK
Peran Korporasi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Salah satu aktor utama dalam ekosistem IHT adalah HMSP, yang memainkan peran sentral dalam rantai pasok industri, mulai dari pembelian bahan baku di sektor pertanian hingga distribusi produk ke sektor retail dan logistik.
Dengan skala operasi yang besar dan pangsa pasar mencapai 27,4 persen, HMSP berperan sebagai penghubung utama yang memastikan proses hilirisasi berjalan efisien dan berkelanjutan.
Riset Litbang Kompas juga mencatat bahwa aktivitas ekonomi HMSP menghasilkan dampak berganda senilai Rp204,1 triliun per tahun, setara dengan sekitar 1 persen dari PDB nasional.
Efek ini tercermin dalam rasio multiplier sebesar 1,7 kali lipat, di mana setiap Rp 1.000 yang dihasilkan dari aktivitas bisnis HMSP mampu menggerakkan nilai ekonomi hingga Rp 1.700.
Nilai tambah yang dihasilkan HMSP bahkan setara dengan sekitar 50 persen dari total PDB sektor IHT, menjadikannya sebagai kontributor tunggal terbesar dalam industri ini.
Baca juga: Kisah Inspiratif Ivan Cahyadi: Lalui Beragam Pengalaman hingga Dipercaya jadi Presdir Sampoerna
Hasil riset Litbang Kompas/KRN
Dampak Berganda dari Hulu hingga hilir
Kontribusi HMSP tidak berhenti di sektor inti IHT, melainkan menjalar ke berbagai sektor lain dalam rantai pasok ekonomi nasional, di antaranya sebagai berikut:
- Sektor pertanian: nilai tambah sekitar Rp27,8 triliun melalui pembelian bahan baku utama, seperti tembakau dan cengkih.
- Sektor ritel modern: kontribusi sekitar Rp6,9 triliun melalui distribusi produk di berbagai jaringan ritel nasional.
- Sektor logistik: aktivitas produk HMSP menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun.
Angka di atas menunjukkan bahwa HMSP tidak hanya berperan sebagai pelaku industri, tetapi juga turut ambil peran sebagai penggerak ekonomi lintas sektor yang memperkuat perputaran ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Dampak ekonomi yang dihasilkan HMSP menjangkau jutaan individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam ekosistem IHT. Kontribusinya mencerminkan komitmen perusahaan terhadap penciptaan nilai ekonomi yang signifikan, setara dengan kontribusi satu provinsi terhadap PDB nasional, dan menegaskan posisi HMSP sebagai salah satu penggerak utama dalam perekonomian Indonesia.
Komitmen pada Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan
Dampak ekonomi yang luas dari HMSP tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dalam komitmen nyata perusahaan terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui Payung Program Keberlanjutan ”Sampoerna untuk Indonesia”, HMSP menjalankan berbagai inisiatif yang menyentuh kehidupan masyarakat di berbagai sektor.
Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah Program Kemitraan Pertanian, yang mendukung petani tembakau dan cengkih melalui penyediaan prasarana produksi, pendampingan teknis, serta jaminan penyerapan hasil panen. Pada tahun 2024, melalui mitra pemasok, HMSP telah bermitra dengan lebih dari 19.500 petani tembakau dan cengkih di berbagai wilayah Indonesia.
Di sektor pemberdayaan ekonomi lokal, HMSP juga telah mengembangkan Sampoerna Retail Community (SRC), jaringan toko kelontong binaan yang kini mencakup lebih dari 250.000 toko di seluruh Indonesia.
Program ini memperkuat daya saing toko retail tradisional melalui digitalisasi dan peningkatan kapasitas usaha. Berdasarkan Riset Kompas Gramedia (KG) Media, setelah bergabung dengan program SRC, toko-toko kelontong mengalami kenaikan omzet rata-rata hingga 42 persen. Secara keseluruhan, kontribusi ekonomi dari toko SRC mencapai Rp 236 triliun per tahun, setara dengan 11,36 persen dari PDB sektor retail nasional tahun 2022.
Sejak tahun 2007, HMSP juga menghadirkan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), pusat pelatihan kewirausahaan yang telah melatih lebih dari 97 ribu peserta. Melalui SETC, lebih dari 200 UMKM binaan telah berhasil menembus pasar ekspor, dan lebih dari 80 persen telah terdigitalisasi.
Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa strategi bisnis HMSP tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan internal, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan dan tersebar luas.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, HMSP berperan aktif dalam mendukung ekonomi kerakyatan dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui pengembangan ekosistem usaha yang inklusif.
Baca juga: Technovation: Philip Morris Tegaskan Komitmen Inklusif untuk Transformasi Industri Tembakau
Baca tanpa iklan