TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali naik dan menembus level 92.000 dolar AS pada Selasa (2/12/2025) malam hingga Rabu pagi waktu Indonesia, setelah mengalami tekanan pasar yang memicu likuidasi lebih dari 250 juta dolar AS pada pekan lalu.
Kenaikan ini didorong oleh menguatnya minat institusi keuangan global terhadap aset digital serta pemulihan sentimen pasar setelah penurunan tajam akhir pekan lalu.
Goldman Sachs dikabarkan akan mengakuisisi Innovator Capital Management dalam kesepakatan senilai sekitar 2 miliar dolar AS.
Innovator menerbitkan ETF yang memungkinkan investor tradisional mendapatkan akses Bitcoin melalui instrumen yang terkelola dan sesuai aturan pasar.
Akuisisi ini dinilai memperkuat posisi Goldman dalam ekosistem ETF, khususnya ketika permintaan produk terkait Bitcoin terus meningkat.
Di saat yang sama, Vanguard yang selama bertahun-tahun menolak aset digital, resmi membuka akses perdagangan ETF Bitcoin di platformnya.
Keputusan ini memberi puluhan juta klien mereka berkesempatan untuk mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui instrumen yang diatur.
Langkah ini menyusul perubahan kebijakan Bank of America yang mulai memperbolehkan 15.000 penasihat keuangannya memberikan rekomendasi alokasi Bitcoin sebesar 1–4 persen kepada nasabah mereka.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan, beberapa keputusan strategis dari institusi besar menjadi katalis penting dalam penguatan harga Bitcoin kali ini.
“Penerimaan institusi besar menjadi faktor utama dalam kenaikan Bitcoin. Langkah Goldman Sachs, Vanguard, hingga Bank of America membuka akses lebih luas terhadap produk berbasis Bitcoin telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto,” jelas Antony dikutip Kamis (4/12/2025).
Baca juga: Bitcoin Melonjak Naik 5 Persen dalam Kurun 24 Jam, Harga BTC Sentuh Level 71.000 Dolar
Ia menambahkan, pemulihan harga Bitcoin kali ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar jangka pendek.
“Setelah terkoreksi ke area 83.800–84.000 dolar AS dan memicu likuidasi besar, pasar langsung menunjukkan minat beli yang kuat. Volume perdagangan global meningkat signifikan dalam 24 jam. Rebound ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap level support yang cukup kuat,” ungkapnya.
Sentimen makro turut memberi warna pada pergerakan harga. Berakhirnya program Quantitative Tightening (QT) pada Senin (1/12) oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi salah satu katalis utama yang memperkuat likuiditas pasar.
The Fed menutup QT dengan menyuntikkan sekitar 13,5 miliar dolar AS melalui operasi repo harian, salah satu injeksi likuiditas terbesar sejak masa pandemi.
Baca juga: Bitcoin Pecah Rekor, Satu koin BTC Nilainya Setara 1000 Gram Emas
Baca tanpa iklan