Ringkasan Berita:
- Perputaran uang selama libur Nataru periode kali ini diperkirakan mencapai Rp 107,562 triliun.
- KAI memberikan diskon 30 persen untuk kelas ekonomi.
- Sementara PELNI menyediakan potongan sekitar 20 persen untuk tiket kapal laut.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan mencatat jumlah pemudik pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 diperkirakan mencapai 119,5 juta orang.
Angka ini meningkat 2,71 persen dibandingkan tahun 2024 dan setara dengan sekitar 42,01 persen dari total penduduk Indonesia.
Berdasarkan proyeksi tersebut, perputaran uang selama libur Nataru periode kali ini diperkirakan mencapai Rp 107,562 triliun.
Baca juga: Jasa Marga Tebar Diskon 20 Persen untuk Pengguna Tol Trans Jawa, Catat Waktu Berlakunya
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menjelaskan, perhitungan itu didasarkan pada asumsi jumlah pemudik setara 29.875.000 juta keluarga dengan rata-rata empat orang per keluarga.
Jika setiap keluarga membawa bekal Rp 3,6 juta, maka potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp 107,55 triliun.
"Masih berpotensi di atas itu, kita mengambil angka yang moderat naik 10 persen dari tahun lalu rata-rata Rp 3,3 juta per keluarga. Jumlah pemudik ini di luar perkiraan kita, karena prediksi tidak sebesar itu mengingat dalam dua bulan ke depan kita sudah memasuki bulan puasa, di mana masyarakat sudah persiapkan untuk mudik Idul Fitri 2026," tutur Sarman melalui keterangan tertulis, Selasa (16/12/2025).
Menurut Sarman, antusiasme masyarakat melakukan perjalanan libur Nataru, baik untuk merayakan Natal maupun berlibur akhir tahun, dipicu oleh berbagai stimulus pemerintah yang bertujuan menekan biaya perjalanan.
Insentif tersebut antara lain diskon tarif tol 10-20 persen di ruas Jabodetabek, Trans Jawa, non-Jawa dan Trans Sumatra, serta potongan harga di seluruh moda transportasi darat, laut dan udara.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan diskon 30 persen untuk kelas ekonomi, sementara PELNI menyediakan potongan sekitar 20 persen untuk tiket kapal laut.
PT ASDP Indonesia Ferry juga memberikan keringanan tarif jasa kepelabuhanan rata-rata sekitar 19 persen pada lintasan prioritas.
Di sektor penerbangan, pemerintah menanggung PPN (DTP) dan maskapai menerapkan penurunan tarif rata-rata 13-14 persen untuk tiket kelas ekonomi.
Sarman menilai, momentum libur Nataru akan mendorong produktivitas berbagai sektor usaha, mulai dari pusat perbelanjaan, grosir, jasa parcel Natal, toko kue, hingga sektor akomodasi seperti hotel, motel, vila dan apartemen.
Sektor restoran, kafe, pusat kuliner, pengrajin oleh-oleh khas daerah, produk UMKM, minimarket dan pedagang mikro di kawasan wisata juga diproyeksikan menikmati peningkatan transaksi.
Selain itu, industri makanan dan minuman untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru, termasuk produsen fashion, batik, kain khas daerah, kue, roti, makanan olahan, minuman ringan hingga minuman beralkohol, serta sektor logistik, transportasi, travel dan jasa penyewaan kendaraan diperkirakan turut terdongkrak.
"Untuk kebutuhan uang tunai, Bank Indonesia (BI) dan pihak Perbankan agar memastikan ketersediaan dalam berbagai pecahan uang rupiah, baik melalui ATM maupun pengambilan langsung untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026," ungkap Sarman.
Perputaran uang diperkirakan tersebar di daerah dengan populasi perayaan Natal seperti Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sumatra Utara, hingga berbagai kabupaten lainnya.
Daerah tujuan wisata favorit seperti Bali, Yogyakarta, Malang, Bandung dan Bogor juga diproyeksikan menjadi pusat pergerakan ekonomi.
Sarman menyebut, pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk pemerintah daerah, untuk memastikan kesiapan infrastruktur, pengaturan lalu lintas, keamanan dan kenyamanan pemudik.
Ia juga mengimbau pengelola destinasi wisata, hotel, parkir dan pelaku kuliner dan UMKM tidak menaikkan harga secara berlebihan agar masyarakat tidak ragu membelanjakan uangnya.
"Semoga liburan Nataru ini mampu menggerakkan ekonomi di berbagai daerah dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 yang ditargetkan di kisaran 5,00-5,04 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 bisa bertahan di angka 5 persen atau lebih," ucap Sarman.
Baca tanpa iklan