News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tahun Baru 2026

Negara-negara yang Paling Berisiko Mengalami Resesi Tahun 2026

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SUDUT KOTA NEW YORK - Salah satu sudut kota New York Amerika Serikat. Negara ini dikhawatirkan mengalami resesi ekonomi pada tahun 2026 mendatang.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Masalah regional, tekanan global, dan jangkauan teknologi baru yang semakin luas, sekali lagi akan mengubah cara setiap negara menavigasi gejolak ekonomi dunia pada tahun 2026.

Pesimisme ini diringkas dalam sebuah Laporan Prospek Ekonomi Dunia terbaru yang dipublikasikan Dana Moneter Internasional (IMF) menjelang tutup tahun 2025 ini.

Dalam proyeksi ekonomi berjudul "Ekonomi Global dalam Ketidakpastian, Prospek Tetap Suram" itu  IMF sedikit merevisi proyeksi pertumbuhan ke atas karena lanskap perdagangan yang kurang bergejolak dan tidak jelas.

Akan tetapi tetap lembaga itu mempertahankan perkiraan perlambatan ekonomi global  dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Ketidakpastian tentang stabilitas dan arah perekonomian global tetap akut,” demikian bunyi laporan tersebut.

Sambil menambahkan bahwa perubahan kebijakan “kerapuhan pasar keuangan,” dan tekanan struktural pada angkatan kerja global berarti risiko tetap “cenderung ke arah penurunan.”

Kemudian Newsweek, Rabu (31/12/2025) menurunkan laporan negara-negara di dunia yang paling berisiko mengalami resesi tahun depan 2026.

Resesi ekonomi penurunan aktivitas ekonomi suatu negara secara signifikan dan berlangsung dalam jangka waktu lama (berbulan-bulan hingga tahunan), ditandai penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dua kuartal berturut-turut, meningkatnya pengangguran, dan menurunnya daya beli masyarakat, konsumsi melambat yang pada akhirnya memengaruhi produksi, konsumsi, dan investasi. 

Negara mana saja yang berisiko mengalami resesi pada tahun 2026?

Amerika Serikat (AS)

Pengumuman tarif "Hari Pembebasan" oleh Presiden AS Donald Trump pada bulan April 2025 lalu membuat pasar bergejolak.

Perusahaan di AS bergegas menimbun barang sebelum bea masuk diberlakukan, sekaligus meningkatkan momok resesi hanya beberapa bulan setelah masa jabatan kedua Trump dimulai.

Kekhawatiran semakin memburuk ketika perkiraan awal menunjukkan ekonomi mengalami kontraksi dalam tiga bulan pertama tahun 2025, tetapi sejak itu agak mereda berkat pertumbuhan PDB yang kuat pada kuartal kedua dan ketiga.

Namun di luar guncangan kebijakan langsung seperti tarif,  dampaknya akan terus terasa pada tahun 2026.

Para ahli telah menunjukkan faktor-faktor korosif mendasar lainnya yang dapat mendorong Amerika menuju kemerosotan ekonomi tahun depan.

“Pasar tenaga kerja di sini sedang mengalami penyusutan,” kata analis keuangan Gary Shilling kepada Newsweek  seraya mencatat bahwa perlambatan ekonomi berakibat pada pemutusan hubungan kerja.

Shilling, salah satu pakar pertama yang menyuarakan kekhawatiran tentang gelembung perumahan yang mendahului Resesi Besar yang dimulai pada akhir tahun 2007, kemudian mengatakan bahwa konsumen AS " terjerat utang yang sangat besar .

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini