Â
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perekonomian Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lebih solid sepanjang 2025 didukung kebijakan fiskal dan moneter yang lebih tepat.
Berbagai program kesejahteraan sosial yang dijalankan pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong perbaikan aktivitas ekonomi, khususnya dari sisi domestik.
Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist ASEAN Economist HSBC Pranjul Bhandari menilai, pertumbuhan ekonomiIndonesia sempat melemah pasca-pandemi seperti tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lemah, begitu juga penjualan ritel, upah dan penciptaan lapangan kerja.
"Beberapa tahun setelah pandemi, kita memiliki kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, tetapi pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah potensi," kata Pranjul di acara Online Media Briefing HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook 2026, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Situasi mulai berubah di 2025 yang menjadi titik balik penting seiring kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai cukup agresif.
Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan hingga 150 basis poin, sementara pemerintah juga menggulirkan berbagai kebijakan kesejahteraan sosial.
Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat jelas pada paruh kedua 2025. Salah satu indikator utama adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) yang menunjukkan tren positif.
Dalam lima bulan terakhir 2025, PMI berada di zona ekspansif setiap bulan, setelah sebelumnya konsisten berada di zona kontraksi.
Baca juga: OJK Sebut Pertumbuhan Ekonomi Global di Tahun Ini Masih akan Melandai
"Yang membuat data PMI lebih kuat adalah kebutuhan domestik yang lebih tinggi. Bukan hanya soal ekspor, tetapi permintaan domestik yang meningkat pesat, terutama dalam tiga bulan terakhir tahun ini," jelas Pranjul.
Perkembangan kredit juga menunjukkan perbaikan. Meski sempat tumbuh lambat di awal 2025, penyaluran kredit mulai meningkat seiring berjalannya tahun.
Pranjul menyoroti peningkatan kredit terutama terlihat pada investasi di perusahaan kecil, yang dinilai cukup signifikan. Hal ini didasari dari kebijakan Menteri Keuangan yang mencairkan dana Rp 200 triliun ke bank-bank Himbara.
Baca juga: Defisit APBN 2025 Bengkak Rp695,1 Triliun, Purbaya: Untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Data kepercayaan konsumen pun menunjukkan tren yang membaik. Menurut Pranjul, kombinasi antara peningkatan kredit, investasi usaha kecil dan membaiknya sentimen konsumen membuat ekonomi Indonesia menutup 2025 dengan kinerja yang relatif baik.
Dia mengingatkan adanya tantangan yang masih membayangi. Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat menahan konsumsi untuk barang-barang tertentu.
Ke depan, Indonesia menghadapi tantangan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, bukan sekadar mengandalkan stimulus sementara.
Baca tanpa iklan