"Dari situlah mata uang Iran mengalami penurunan, sehingga terjadilah demonstrasi besar," ujar Ibrahim.
Kelompok demonstran menuntut perubahan pemerintahan. Namun berbeda dengan Venezuela, militer Iran mendukung pemerintah, sehingga demonstrasi berujung penindakan keras dengan korban ratusan jiwa.
Situasi tersebut membuat Amerika Serikat mempertimbangkan opsi militer, tetapi Iran juga berusaha menurunkan eskalasi melalui negosiasi.
Secara paralel, Israel via intelijen seperti Mossad juga disebut telah masuk ke Iran untuk operasi tertentu, sehingga situasi politik makin panas.
Baca juga: AS Desak Warganya Tinggalkan Iran via Jalur Darat, Trump Pertimbangkan Opsi Militer?
"Rezim yang dulu berkuasa sebelum ulama berkuasa, mereka sekarang sedang dipersiapkan. Putra Mahkotanya sedang dipersiapkan sebagai presiden di Iranx," ucap Ibrahim.
"Nah ini sebenarnya yang membuat gejolak politik di Iran itu memanas. Di sisi lain Mossad pun juga sudah masuk ke Iran," jelasnya.
Ketidakstabilan ini berdampak ke ekonomi, termasuk sektor minyak.
Ketika pasokan minyak global dinilai berlebih (oversupply), harga minyak turun, dan ini memperburuk posisi ekonomi Iran.
"Ini yang dijadikan acuan mata uang Iran ini mengalami pelemahan yang cukup signifikan," kata Ibrahim.
"Pelemahannya cukup cukup masif karena bank sentral Iran pun juga sampai saat ini terus melakukan intervensi, tetapi karena kekacauan politik itulah yang membuat pelemahan mata uangnya semakin dalam," jelasnya.
Baca tanpa iklan