News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

IHSG Naik tapi Rupiah Melemah, Begini Penjelasan Ekonom Bank Permata

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore, rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah rupiah yang melemah bukan merupakan fenomena yang aneh.

Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore, rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955.

Sementara itu, pada hari yang sama, IHSG ditutup di level 9.134, menguat 0,82 poin atau naik 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Makin Dalam, Ini Ngaruhnya ke Dompet Masyarakat

"Fenomena IHSG menguat sementara rupiah melemah itu bisa terjadi dan bukan hal yang aneh karena keduanya digerakkan oleh faktor yang berbeda," kata Josua kepada Tribunnews, dikutip Rabu (21/1/2026).

Josua menjelaskan, IHSG lebih banyak merefleksikan prospek laba perusahaan, likuiditas di dalam negeri, dan selera investor terhadap saham.

Sementara itu, rupiah sangat sensitif terhadap keluar-masuk valas harian untuk kebutuhan impor, pembayaran utang dan bunga, repatriasi dividen, serta arus dana asing di pasar surat utang dan valas.

"Jadi, saat aliran dana dan sentimen di pasar saham sedang positif, rupiah tetap bisa tertekan bila kebutuhan valas dan arus keluarnya lebih besar dari pasokannya," ujar Josua.

Dalam sejarah pasar, kata Josua, hubungan IHSG dan rupiah juga tidak selalu searah.

Ada fase keduanya sama-sama menguat, sama-sama melemah, dan ada fase berlawanan seperti sekarang ketika sumber penggeraknya tidak sinkron.

Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke Level  9.094, Ada 496 Saham Tersungkur ke Zona Merah

"Penyebabnya biasanya campuran faktor global dan domestik, tetapi dalam episode rupiah melemah saat saham menguat, sering kali pemicunya lebih kuat di sisi valas dan surat utang," ujar Josua.

Global dan Domestik

Dari sisi global, saat ketidakpastian meningkat, pelaku pasar disebut cenderung mengurangi posisi di aset berisiko dan menambah aset yang dianggap aman.

Hal itu mendorong pergeseran dana lintas negara dan bisa menekan mata uang negara berkembang, meski bursa saham lokal masih ditopang investor domestik.

Pada Januari 2026, sentimen global juga dipengaruhi isu tarif dan ketegangan geopolitik yang mendorong lonjakan emas serta perubahan cepat preferensi aset, yang tercermin pada pergerakan dolar dan mata uang Asia.

Dari sisi domestik, rupiah bisa tertekan bila pasar melihat risiko fiskal membesar, kebutuhan pembiayaan pemerintah naik, atau pasokan valas dari eksportir melambat.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini