News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sore Ini Rupiah Menguat ke Rp 16.936 per Dolar AS, Ada Faktor Purbaya

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KEMBALI MENGUAT - Nilai tukar rupiah menguat 20 poin ke level Rp 16.936 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.956 pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026) sore.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat 20 poin ke level Rp 16.936 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.956 pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026) sore.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkap penguatan rupiah terjadi di tengah indeks dolar AS yang juga menguat.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkapkan penguatan ini berkat faktor dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, faktornya datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa pelebaran defisit fiskal 2,92 persen pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas 3 persen adalah langkah sengaja guna memacu pemulihan ekonomi nasional.

"Kebijakan ini diambil sebagai strategi countercyclical guna membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang tahun 2025," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Rabu ini.

Dalam penjelasan Purbaya, disebutkan bahwa intervensi fiskal yang agresif sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17 Ribu Per Dolar AS, Menkeu Purbaya dan Gubernur BI Bertemu Mensesneg

Tanpa dorongan APBN yang optimal, Purbaya menilai perekonomian nasional berisiko terperosok ke dalam jurang krisis.

"Kebijakan ini telah mulai membuahkan hasil dengan berbaliknya arah perekonomian ke zona positif," ujar Ibrahim.

Faktor berikutnya adalah Bank Indonesia yang memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75 persen dan suku bunga lending facility di 5,5 persen.

Menurut Ibrahim, keputusan BI telah menunjukkan konsistensis mereka menjaga rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan.

Baca juga: Gubernur BI Jelaskan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah hampir Rp 17.000 Per Dolar AS 

Kendati mempertahankan suku bunga pada bulan Januari ini, BI masih menegaskan bahwa ruang penurunan suku bunga terbuka lebar.

Namun, penurunan akan dibarengi oleh perkiraan inflasi pada tahun ini yang berada di sasaran 4,5 persen plus minus 1 persen.

Faktor Luar

Sementara itu, faktor penguatan rupiah dari luar negeri datang dari strategi Greenland membuat ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini