TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak tajam pada perdagangan pagi ini dan diperdagangkan di level 4.780, menguat 11,42 persen atau naik 490 poin, Senin, 26 Januari 2026.
Penguatan ANTM didorong oleh katalis eksternal, yakni reli lanjutan harga logam mulia. Harga emas global kembali mencetak rekor dan dibuka menguat 1,92 persen ke level US$ 5.090,1 per ons troi, sekaligus menembus level psikologis US$ 5.000.
Sentimen positif turut diperkuat oleh meningkatnya porsi emas dalam cadangan devisa global yang semakin mendekati porsi dolar AS, di tengah respons pasar terhadap ancaman tarif 100 persen Pemerintah Amerika Serikat terhadap Kanada
Sentimen positif lainnya adalah serta probabilitas terjadinya government shutdown di AS, yang berpotensi mendorong permintaan aset safe haven.
Di sisi lain, risiko koreksi tetap diperhatikan investor, terutama dari faktor internal seperti potensi pengumuman kuota RKAB serta perkembangan terkait denda Satgas, yang berpotensi memengaruhi sentimen jangka pendek saham ANTM.
IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidatif
Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkirakan pasar saham domestik sepekan ini bergerak konsolidatif, setelah terkoreksi 1,37 persen pekan lalu.
Menurut Hari Rachmansyah, Equity Analyst IPOT, pekan ini, IHSG akan bergerak dalam range support 8.950 dan resistance 9.080.
Baca juga: Harga Emas Dunia Hari Ini Meroket, Bagaimana Harga di Pegadaian?
Hari menjelaskan, dari sisi global, Wall Street diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan konsolidasi, seiring dengan meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah beragam sentimen global dan agenda pasar ke depan.
Pasar akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting di AS, seperti Non-Farm Payrolls (NFP), neraca perdagangan serta data klaim pengangguran.
Indikator ekonomi tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dan membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter selanjutnya.
Dari sisi domestik makro, menurut Hari, pemerintah Indonesia diperkirakan akan semakin memfokuskan kebijakan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Baca juga: Awal Pekan, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Pasca Tekanan Jual
Langkah itu tercermin dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan, mulai dari pengendalian defisit anggaran, optimalisasi penerimaan negara, hingga pengelolaan belanja yang lebih terarah.
Hari menambahkan, dari sisi moneter, Bank Indonesia cenderung mempertahankan suku bunga acuan sebagai upaya menjaga daya tarik aset domestik sekaligus mendukung stabilisasi pasar valas dan pengelolaan likuiditas.
Baca tanpa iklan