News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dirut BEI Mundur

Sekuritas Kaget Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • BEI dua kali memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham karena kemerosotan IHSG menyentuh 8 persen.
  • Kemerosotan tajam IHSG pada Rabu dan Kamis kemarin diharapkan menjadi momen perbaikan untuk memperdalam penetrasi pasar modal ke investor lokal.
  • Penurunan IHSG dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks saham di bursa Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengunduran diri Iman Rachman dari kursi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai ekspresi penyesalan gagal menjaga Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dari kejatuhan selama dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis, 28-29 Januari 2026.

BEI dua kali memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham karena kemerosotan IHSG menyentuh 8 persen.

"Mungkin dirasa beliau gagal dalam membenahi emiten terkait dengan free float, sehingga mendapat tekanan dari aksi jual pelaku pasar, sehingga beliau dengan legawa memutuskan untuk mundur," kata Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).

Reza berharap ke depan pasar modal Indonesia bisa menjadi lebih transparan, efisien, efektif, serta berintegritas. Menurutnya, pasar modal Indonesia seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi pelaku pasar untuk berinvestasi.

Pasar modal diharapkan tidak menjadi ajang seperti kasino mencari keuntungan pribadi. "Bahkan, sebagai ajang memanfaatkan untuk menarik newbie berinvestasi tanpa ada arah," ujar Iman.

Kemerosotan tajam IHSG pada Rabu dan Kamis kemarin diharapkan menjadi momen perbaikan untuk memperdalam penetrasi pasar modal ke investor lokal.

Dengan semakin banyak investor lokal yang teredukasi dan aktif di pasar modal, Reza menilai ketergantungan terhadap dana asing bisa dikurangi.

"Sehingga, ketika terjadi turbulensi keluarnya asing, maka investor-investor lokal yang dapat menyanggah Pasar Modal Indonesia," kata Iman.

Dia tak ambil pusing terkait dengan penilaian lembaga global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Menurutnya, orang berinvestasi berdasarkan keyakinan dan penilaian terhadap emiten, bukan tergantung dari penilaian asing tersebut. "Ini kan Pasar Modal Indonesia bukan pasar modal asing," katanya.

Ia menegaskan pasar modal Indonesia bukan milik investor asing semata, meskipun kehadiran mereka tetap menjadi bagian dari ekosistem.

Terkait pengunduran diri Iman Rachman, Reza juga mengaku belum mengetahui apakah ada tekanan tertentu di balik keputusan tersebut atau murni merupakan bentuk akuntabilitas pribadi.

"Emangnya klo beliau mundur lalu MSCI akan merubah pandangannya? Kan enggak juga," ujar Iman. 

Penurunan IHSG dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks saham di bursa Indonesia.

MSCI membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks, efektif mulai rebalancing Februari 2026.

MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).

Baca juga: Profil Iman Rachman, Dirut BEI yang Mundur Pasca Ambyarnya IHSG 2 Hari Berturut-turut

Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, termasuk klasifikasi suatu negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.

Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Hal ini diterapkan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.

"Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis pengumuman MSCI yang dirilis pada Selasa (27/1) malam.

Dalam pengumuman terpisah, MSCI menyampaikan langkah untuk mengurangi potensi reverse turnover pada Index Review Mei 2026 yang dapat timbul akibat penerapan metodologi pembulatan free float yang ditingkatkan.

Baca juga: Dirut BEI Iman Rachman Mundur, Posisinya Diisi Pelaksana Tugas

“Oleh karena itu, pada Index Review Februari 2026, MSCI hanya akan menerapkan perubahan free float yang bersifat signifikan,” jelas MSCI.

Di sisi lain, Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia mengatakan, interim freeze itu membuat tidak akan ada penambahan saham baru (Additions) atau promosi (Small to Standard) untuk emiten Indonesia pada review periode Februari 2026.

“Dampak langsung ke (saham) kandidat adalah seluruh tesis investasi berbasis inklusi MSCI untuk Februari ini gugur,” tulisnya dalam riset yang dikutip dari Kontan.

Masalah utama dari keputusan itu adalah krisis kepercayaan. MSCI menyebutkan investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham, baik punya KSEI maupun BEI.

Ini lantaran terdapat masalah terkait struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).

“Secara sederhana market kita dianggap terlalu banyak "gorengan" dan data free float-nya tidak mencerminkan realita,” katanya.

Jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan, MSCI pun mengancam akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia dan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini