News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nilai Tukar Rupiah

Sore Ini Rupiah Kembali Melemah ke Rp 16.842 per Dolar AS, Kamis 5 Februari

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KEMBALI MELEMAH - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 16.842 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.776 pada perdagangan Rabu sore, 5 Februari 2026. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 16.842 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.776 pada perdagangan Rabu sore, 5 Februari 2026.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkap bahwa pelemahan ini seiring dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.840-16.900," katanya dalam keterangan tertulis pada Kamis ini.

Ibrahim yang merupakan pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor dari luar dan dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah hari ini.

Faktor pertama adalah hubungan antara AS dan Iran. Sempat ada kabar pembicaraan kedua negara tersebut akan batal, tetapi kemudian dibantah pejabat dari masing-masing negara.

Kini, kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang besar mengenai apa yang seharusnya dibahas dalam pembicaraan tersebut.

Iran terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat.

Sementara itu, AS juga ingin memasukkan rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok proksi bersenjata di sekitar Timur Tengah, dan perlakuannya terhadap rakyatnya sendiri.

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.754 per Dolar AS Pada Selasa 3 Februari

Terlepas dari pembicaraan yang akan datang, ada kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump masih akan melaksanakan ancamannya untuk menyerang Iran.

Selain kemungkinan gangguan produksi Iran jika terjadi konflik, ada kekhawatiran bahwa ekspor dari produsen Teluk lainnya dapat terpengaruh.

Faktor kedua adalah hubungan antara Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Donald Trump mengatakan bahwa ia telah melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Xi Jinping.

Trump mengungkapkan bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Tiongkok pada April. Mereka akan membahas perdagangan, militer, Taiwan, perang Rusia/Ukraina, Iran, dan pembelian minyak dan gas Tiongkok dari AS.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.776 per Dolar AS Pada Rabu 4 Februari

Faktor ketiga adalah antisipasi pasar terhadap Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh.

Para pedagang juga menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga Fed setelah jeda penurunan suku bunga Fed pada Januari dan penunjukan Warsh.

"Pasar keuangan saat ini memperkirakan hampir 46 persen kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni, menurut alat CME FedWatch," ujar Ibrahim.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini