News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gubernur BI Proyeksikan Transaksi Digital Pada 2030 Tembus 150 Miliar per Hari

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PROYEKSI GUBERNUR BI - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam acara peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesian (PIDI) di gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). Ia memproyeksikan transaksi digital nasional akan melonjak tajam hingga mencapai 150 miliar transaksi per hari pada 2030. Dok: Endrapta Pramudhiaz

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan transaksi digital nasional akan melonjak tajam hingga mencapai 150 miliar transaksi per hari pada 2030.

Proyeksi tersebut merupakan bagian dari blueprint sistem pembayaran Indonesia 2030 yang telah diluncurkan Bank Indonesia. 

"Kita semua BI sudah meluncurkan blueprint sistem pembayaran Indonesia 2030. Digital transaksi akan reaching 150 miliar transaksi per day dari sekarang 47 miliar,” kata Perry dalam acara peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesian (PIDI) di gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Selain itu, QRIS telah digunakan oleh sekitar 60 juta pengguna di dalam negeri.

Penggunaan QRIS juga sedang diekspansi ke berbagai negara. Saat ini, sistem pembayaran berbasis kode QR tersebut telah digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang.

Dalam waktu dekat, QRIS juga akan segera aktif di China dan Korea Selatan, serta tengah dijajaki koneksi dengan sistem pembayaran di Arab Saudi dan India.

Selain QRIS, BI juga memperkuat infrastruktur fast payment melalui BI-FAST yang memungkinkan transaksi berlangsung 24 jam setiap hari dengan biaya murah.

"Dulu kita tidak punya BI FAST. Dulu ada SKN BI, ada GPN, ada empat switching yang melayani kelompoknya sendiri,” ujar Perry.

Saat ini, nilai transaksi melalui sistem fast payment disebut telah mencapai 1,8 kuadriliun.

Lebih lanjut, BI juga mengembangkan Standard National Open API (SNAP)  sebagai standar integrasi sistem pembayaran nasional.

Baca juga: Target KTT D-8 Jakarta: QRIS Menembus Pasar Turki dan Mesir

Perry mengibaratkan SNAP sebagai satu bahasa bersama di industri perbankan dan sistem pembayaran digital.

"Dulu kalau kita transfer antar bank dengan bank lain ada yang pakai bahasa Jawa ada yang pakai bahasa Sunda, [sekarang] kita hanya satu bahasa namanya Standard National Open API. SNAP namanya,” ucap Perry.

Ia menambahkan, lebih dari 30 hingga 35 bank di Indonesia kini telah terhubung dengan layanan digital banking, termasuk integrasi QRIS, BI-FAST, dan SNAP.

Dengan konsolidasi industri serta sinergi antara Bank Indonesia dan pelaku industri, Perry menyebut sistem pembayaran digital Indonesia kini dapat digunakan di berbagai wilayah dengan kemudahan akses.

“Sekarang everywhere you go you can do transaction pembayaran digital layanan services di Indonesia anywhere,” ujar Perry.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini