News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Sudah Sentuh 80 Dolar AS, Ada Potensi Naik ke 120 Dolar AS Imbas Perang Iran

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MINYAK DUNIA - Harga minyak global akan tembus hingga di angka USD 120 setelah sebelumnya sempat menyentuh angka USD 65 per barel.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia diminta hati-hati terhadap dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pada sektor perekonomian tanah air.

Peneliti dari Center of Digital Economy and SME INDEF, Nailul Huda mengatakan, konflik yang kini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei tersebut akan berdampak pada harga minyak secara global.

Dia bahkan memprediksi, harga minyak global akan tembus hingga di angka USD120 setelah sebelumnya sempat menyentuh angka USD 65.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Meroket, Sentimen AS-Iran Dorong Lonjakan Terbesar dalam Pekan Ini

"Yang pasti (pengaruhnya) adalah kenaikan harga minyak akan cukup signifikan. Per hari ini, harga minyak sudah menyentuh angka USD 79-80 per barel dari yang sebelumnya sempat menyentuh angka USD 65 per barel di awal bulan Februari. Bisa jadi, harga minyak global akan menyentuh di angka USD 120 per barel," kata Huda kepada Tribunnewscom, Senin (2/3/2026) petang.

Huda menyatakan demikian lantaran kondisi konflik kali ini hampir serupa dengan konflik antara Rusia dan Ukraina beberapa tahun lalu.

Dia bahkan menyebut, konflik di Timur Tengah ini bisa berdampak lebih besar terhadap harga minyak, lantaran Iran telah menutup akses akses Selat Hormuz yang bisa mengurangi pasokan minyak global.

"Penutupan selat Hormuz bisa mengurangi pasokan minyak secara signifikan yang akan menaikkan harga minyak mentah dunia. Ada 30 persen perdagangan minyak mentah yang melewati selat Hormuz," ucap dia.

Kondisi ini menurut Huda, harus bisa segera dimitigasi oleh pemerintah RI karena harga barang-barang hingga BBM secara global akan meningkat karena blokade akses ke Mesir dan membuat kapal harus memutari Afrika.

Dirinya bahkan menyinggung adanya potensi pemerintah bisa kebobolan anggaran karena akan menanggung besarnya subsidi terhadap BBM.

 

Namun, apabila BBM tidak disubsidi maka daya beli masyarakat akan terpengaruh besar.

"Ketika harga minyak mentah dan barang impor naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak terutama untuk BBM. Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM," ucap dia.

Pemerintah juga kata dia, tidak bisa mengandalkan penerimaan negara, sebab, dengan kemungkinan meroketnya harga barang-barang dan BBM akan berdampak pada lesunya daya beli masyarakat.

"Mengandalkan utang baru pun susah karena ada laporan dari Moodys dan terbaru S&P yang mengatakan kondisi pengelolaan fiskal kita buruk," ucap dia.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini