TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) perdagangan Senin (16/3/2026) pagi anjlok 2 persen lebih.
Data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka turun ke level 7.115,45 dari posisi penutupan sebelumnya 7.137,21.
Sekitar pukul 09.06 WIB, IHSG sudah anjlok 2,63 persen di level 6.946,32.
Baca juga: IHSG Anjlok 2 Persen Lebih, Tinggalkan Level 7.000
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menegaskan, pelemahan terutama dipicu meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlanjut.
Hal ini memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global serta kemungkinan kebijakan moneter global yang lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mulai mempertimbangkan penyesuaian atau pengurangan beberapa pos belanja APBN guna menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap PDB.
"Kombinasi ketidakpastian global serta kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off," papar Hari.
Lebih lanjut Ia mengatakan, apabila defisit fiskal terus melebar, beberapa risiko yang dapat muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal.
Selain itu, pelebaran defisit juga dapat mempersempit ruang stimulus fiskal di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi kebijakan moneter, kata Hari, pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan depan, di mana secara konsensus bank sentral diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Selektif
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai strategi investor menjelang libur panjang sebaiknya lebih selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat.
“Dalam kondisi seperti ini, strategi yang lebih bijak bagi investor adalah menjaga posisi yang sudah ada sambil tetap selektif melakukan akumulasi pada saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi,” kata Harry.
Menurutnya, beberapa sektor yang relatif menarik dicermati saat ini antara lain perbankan besar, consumer non-cyclical, serta komoditas.
Baca tanpa iklan