Dimana, belanja negara RI tercatat sebesar Rp815 Triliun atau naik 31,4 persen year on year (YoY), sementara pendapatan negara tercatat hanya sebesar Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5 persen.
Meski begitu Purbaya, meminta kepada seluruh publik untuk tidak terkejut dengan anggaran yang defisit ini, sebab APBN memang selalu didesain defisit.
"Dengan demikian, defisit APBN sebesar 240,1 triliun rupiah atau 0,93 persen terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit, masyarakat, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget memang anggaran kita didesain defisit," katanya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/4).
Purbaya menjelaskan APBN didesain defisit lantaran belanja negara dibuat merata sepanjang tahun.
Hanya saja menurut Purbaya, desain anggaran yang demikian merupakan suatu hal yang normal. Terpenting pemerintah kata dia, akan terus memonitor perkembangan setiap tahunnya.
"Kita monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya. Jadi kita berhati-hati dalam hal ini," ujar Purbaya.
Purbaya lantas memerinci sumber pendapatan negara pada triwulan I 2026 yang sebesar Rp574,9 triliun.
Kata dia dari penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp462,7 triliun, apabila dirincikan lagi yang berasal dari pajak sebesar Rp394,8 triliun dan dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp67,9 triliun.
Lalu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun, sementara itu pendapatan dari penerimaan hibah sebesar Rp100 miliar.
Kemudian, belanja negara sebesar Rp815 triliun jika didetailkan paling besar adalah belanja pemerintah pusat sebesar Rp610,3 triliun.
Rinciannya, belanja kementerian/lembaga sebesar Rp281,2 triliun dan belanja non kementerian/lembaga sebesar Rp329,1 trilliun.
Sementara itu, dana transfer ke daerah sebesar Rp204,8 triliun.
Baca tanpa iklan