TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengembangan hilirisasi tembaga dan emas di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated and Industrial Port Estate (KEK JIIPE) menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat struktur industri nasional.
Proyek ini diperkirakan mampu menyerap hingga 7.500 tenaga kerja, menjadikannya salah satu penggerak ekonomi baru di Jawa Timur.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari seremoni groundbreaking hilirisasi nasional tahap II yang melibatkan berbagai perusahaan strategis negara. Sejumlah entitas seperti MIND ID, Defend ID, Antam, Freeport Indonesia, Pindad serta Pelindoterlibat dalam pembangunan ekosistem industri terintegrasi ini.
Baca juga: Bencana dan Kebijakan Hentikan Operasi, CESS Soroti Sengketa Asuransi di Industri Pertambangan
Fasilitas yang dibangun mencakup lini produksi brass mill dan brass cups dengan kapasitas 10.000 ton per tahun, serta pabrik manufaktur emas logam mulia berkapasitas hingga 30 ton per tahun. Kehadiran fasilitas ini mempertegas arah hilirisasi menuju produk turunan bernilai tinggi.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, keberhasilan proyek industri tidak hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat.
"Serapan tenaga kerja dan stabilitas sosial menjadi indikator utama keberhasilan hilirisasi,' kata Emil dikutip, Senin (6/5/2026).
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas.
Dalam penjelasannya, Emil menyebut bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak hanya muncul saat tahap pembangunan, tetapi juga akan berlanjut pada fase operasional hingga pengembangan industri turunan.
Tenaga kerja nantinya akan terserap di berbagai lini, mulai dari pengolahan katoda tembaga menjadi produk seperti pipa dan kawat, hingga sektor strategis seperti bahan baku industri pertahanan serta pengolahan emas oleh ANTAM.
Lebih jauh, proyek ini juga dinilai berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. Dengan keterlibatan industri bernilai tambah tinggi, masyarakat lokal diharapkan memperoleh peluang peningkatan keterampilan dan daya saing.
Emil juga menyoroti pentingnya pemerataan manfaat ekonomi, khususnya di kawasan Gerbangkertosusila yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Ia menegaskan bahwa strategi hilirisasi harus dijalankan secara kolaboratif agar manfaatnya tidak terpusat di satu wilayah saja, melainkan menyebar ke berbagai sektor dan daerah.
“Hilirisasi tahap lanjut di Jawa Timur diarahkan pada pengembangan multi-komoditas. Semangatnya adalah kolaborasi, agar kemajuan ini bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Dengan skala investasi dan potensi tenaga kerja yang besar, proyek ini menjadi simbol pergeseran ekonomi menuju industri bernilai tambah tinggi sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Baca tanpa iklan