TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan-I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara YoY.
Dalam keterangan pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026), Amalia menjelaskan pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan-IV 2025 sebesar 5,39 persen YoY dan juga pada triwulan 1 di tahun 2025 sebesar 4,87 persen YoY.
Capaian dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 6.187,2 triliun ini memecahkan rekor sebagai pertumbuhan triwulan pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah mencapai 6,03 persen YoY pada zaman pemerintahan Presiden SBY di triwulan-I 2013 dan sejak itu terus menurun dan cenderung stagnan di sekitar 5 persen YoY sepanjang triwulan-I tahun 2014-2019, sebelum akhirnya turun drastis di era pandemi Covid-19.
Pasca pandemi, pertumbuhan ekonomi triwulan-I mencapai puncaknya di level 5,61 persen di tahun 2026 yang menandakan perekonomian Indonesia sudah memasuki inflection point untuk perubahan pertumbuhan dari 5 persen menuju 6 persen.
Peneliti Ekonomi Great Institute, Yossi Martino, angkat bicara terkait kinerja pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto atas pencapaian pertumbuhan ekonomi.
Sebagai nahkoda Kementerian Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa telah melaksanakan mandat dan instruksi Presiden secara matang dan cakap.
Yossi menilai bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari program serta strategi kebijakan ekonomi yang diambil oleh Menteri Keuangan tersebut sepanjang tahun 2026 ini.
Sementara di tengah turbulensi politik maupun ekonomi global, akselerasi pertumbuhan ini mecerminkan resiliensi Indonesia.
Capaian ini bahkan berada di atas mitra dagang utama Indonesia seperti Malaysia di level 5,30 persen, Singapura di level 4,60 persen, dan bahkan di atas Cina yang mencatat pertumbuhan di level 5,00 persen.
Yossi menjelaskan, capaian ini merupakan buah keberhasilan dari pengeksekusian strategi frontloading atau percepatan belanja negara di awal tahun yang terukur.
"Sebagaimana telah kami proyeksikan dan rekomendasikan secara tegas dalam dokumen Outlook Ekonomi Great Institute 2026, pemerintah memang harus menggeser paradigma dari backloading ke frontloading untuk memompa likuiditas di triwulan pertama. Data BPS hari ini mengonfirmasi bahwa strategi injeksi fiskal tersebut tereksekusi dengan efektif," kata Yossi kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya keberhasilan ini didukung oleh komposisi pertumbuhan yang dirilis BPS.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 21,81 persen YoY, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen.
Baca tanpa iklan