News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tingkatkan Efisiensi Logistik Perlu Pendekatan Multimoda dan Geostrategis

Penulis: Sanusi
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MASIH RENDAH - Efisiensi sektor logistik Indonesia masih rendah, berada di peringkat ke-6 di antara negara-negara di ASEAN. Untuk meningkatkan efisiensi perlu pendekatan integrasi multimoda, bukan hanya terbatas membangun infrastruktur. EFISIENSI SEKTOR LOGISTIK - Upaya mendorong efisiensi sektor logistik perlu mempertimbangkan posisi geografis Indonesia yang strategis dalam rantai pasok global.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang solid sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Namun, di balik capaian tersebut masih terdapat ruang optimalisasi, khususnya pada sektor logistik dan rantai pasok yang berpotensi menjadi akselerator mesin pertumbuhan.

Hal ini penting lantaran efisiensi sektor logistik Indonesia masih rendah berada pada peringkat ke-6 di level ASEAN.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, pendekatan yang dipakai untuk meningkatkan efisiensi sektor logistik perlu mempertimbangkan posisi geografis Indonesia yang strategis dalam rantai pasok global serta mengarusutamakan perspektif integrasi multimoda, bukan hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur.

FIATA merupakan organisasi non-pemerintah berbasis di Jenewa, Swiss, yang mencakup lebih dari 150 negara anggota, 111 asosiasi logistik global, 6.000 anggota individu dan lebih dari 40.000 perusahaan multinasional untuk mempromosikan pengiriman barang dan praktik terbaik perusahaan logistik dan forwarder.

“Sebagai negara kepulauan, Indonesia perlu fokus memperhatikan posisi geografisnya yang strategis dalam jalur perdagangan dunia. Hal ini penting agar pendekatan logistik yang diambil juga berkepentingan untuk mengintegrasikan Indonesia dalam arus perdagangan dan rantai pasok global," ujarnya.

"Dengan begitu, pendekatan multimoda transportasi logistik nantinya juga mengarusutamakan integrasi transportasi laut dan udara, selain mengoptimalisasikan transportasi darat,” kata Yukki.

Yukki menilai dengan pendekatan multimoda yang diambil nantinya dapat mengurai komponen biaya logistik dengan lebih efisien dan optimal. 

Baca juga: Berdampak Positif ke Ekosistem Logistik, ALFI Dukung Kebijakan Ketahanan Energi Prabowo

Sebab, hampir 90 persen pergerakan logistik masih didominasi melalui transportasi darat, sedangkan transportasi laut dan udara masing-masing hanya 9 persen dan 1 persen dari total pergerakan logistik.

“Terkonsentrasinya pergerakan logistik pada transportasi darat menyebabkan tekanan pada biaya logistik yang juga terus meningkat, khususnya mengingat hambatan dari sisi kualitas jalan yang belum terstandarisasi bagi angkutan darat, kemacetan dalam kota dan akses menuju pelabuhan yang menyebabkan konsumsi bahan bakar tambahan, maupun belum terkoneksinya akses pelabuhan dengan hinterland. Maka akses logistik yang terkonsentrasi ini perlu didiversifikasi,” tambah Yukki.

Posisi Geostrategis Indonesia

Yukki berpendapat, Indonesia masih belum mengoptimalkan posisi strategisnya yang terletak pada chokepoint penting perdagangan global, seperti Selat Malaka ataupun Samudera Hindia dan Pasifik.

Pada praktiknya, Indonesia masih lebih sering berperan sebagai titik transit dibandingkan pusat aktivitas logistik dan rantai pasok pada chokepoint ini.

Baca juga: Makin Dinamis, Rantai Pasok Global Terus Cari Akses Pasar ke Industri F&B Indonesia

“Misalnya kapal-kapal internasional dan kargo udara melintas pada jalur perdagangan strategis kita, tetapi proses konsolidasi, distribusi, hingga nilai tambah logistik justru banyak terjadi di negara lain yang lebih siap."

"Padahal dengan kesiapan sistem logistik dan rantai pasok Indonesia yang lebih efektif, value creation dari integrasi ke perdagangan global akan memperkuat perekonomian nasional. Bahkan, Indonesia berpotensi menjadi hub penting dalam rantai pasok global,” tegas Yukki.

Gunakan Pendekatan Multimoda 

Yukki menekankan bahwa persepsi terhadap sistem logistik dan rantai pasok nasional perlu berfokus pada pengembangan dan integrasi transportasi multimoda seiring dengan mengarusutamakan posisi geografis sebagai acuan dalam perumusan kebijakan dan regulasi.

Yukki menilai terdapat solusi jangka pendek dan panjang yang dapat dilakukan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini