News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Investor Indonesia Tumbuh Pesat, Tapi Tidak Semua Siap Hadapi Volatilitas Pasar

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: willy Widianto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (7/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,36% atau naik 29,38 poin pada penutupan perdagangan Selasa (7/10/2025) dan torehan tersebut merupakan rekor harga penutupan tertinggi?IHSG?atau berada di level 8.169,28. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang kini telah menembus lebih dari 21 juta Single Investor Identification (SID) menjadi salah satu capaian penting dalam perkembangan inklusi keuangan nasional. Lonjakan ini menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat, terutama generasi muda, terhadap instrumen investasi seperti saham dan reksa dana di tengah kemajuan teknologi finansial yang semakin terbuka.

Baca juga: Saham Grup Pertamina Tunjukkan Resiliensi di Tengah Volatilitas IHSG

Namun dibalik capaian positif tersebut muncul tantangan baru yang dinilai lebih krusial, yakni kemampuan investor untuk menjaga konsistensi dan kedisiplinan dalam berinvestasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih bergejolak, termasuk tekanan pasar akibat faktor geopolitik dan arus keluar modal asing.

Bank Indonesia(BI) mencatat pada Maret 2026 terjadi arus keluar portofolio asing sebesar 1,1 miliar dolar AS yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta tekanan pada pasar keuangan global. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika eksternal masih menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia, meski minat investor domestik terus menunjukkan tren meningkat.

Data terbaru memperlihatkan bahwa lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia, atau sekitar 54,35 persen, berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Fakta ini menegaskan peran dominan generasi muda dalam mendorong pertumbuhan investasi nasional sekaligus memperlihatkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin akrab dengan instrumen keuangan digital.

Co-Founder Recompound, Budi Ryan, menilai bahwa pertumbuhan jumlah investor merupakan sinyal positif bahwa literasi dan akses terhadap pasar modal semakin berkembang. Namun ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar bagaimana masyarakat masuk ke pasar, melainkan bagaimana mereka mampu bertahan dengan strategi yang tepat di tengah volatilitas yang tinggi.

“Tantangan investor saat ini bukan sekadar memulai, melainkan bagaimana tetap konsisten di tengah volatilitas pasar,” ujar Budi, Kamis(7/5/2026).

Menurutnya, persoalan yang dihadapi investor ritel saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan justru kelebihan informasi yang tidak terstruktur. Kondisi ini membuat banyak investor, khususnya generasi muda, mudah terpengaruh oleh sentimen jangka pendek dan kehilangan arah dalam pengambilan keputusan investasi.

Budi yang juga memiliki lisensi penasihat investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa investor saat ini berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi, akses informasi sangat terbuka luas, namun di sisi lain hal tersebut justru menimbulkan kebingungan dalam menentukan strategi investasi yang tepat dan berkelanjutan.

Ia menyebut terdapat tiga tantangan utama yang dihadapi investor ritel saat ini, yaitu dominasi pola pikir jangka pendek, rendahnya kepercayaan terhadap nasihat finansial, serta kecenderungan berinvestasi tanpa sistem yang jelas dan terstruktur.

Baca juga: Pertamina Ajak Investor dan Penyedia Teknologi Global Garap Hulu Migas Indonesia

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat sebagian investor terjebak pada dua ekstrem, yakni mengelola portofolio secara mandiri tanpa pendekatan yang sistematis, atau memilih instrumen pasif dengan biaya tinggi tanpa memahami risiko secara mendalam. Dalam konteks ini, pendekatan investasi berbasis proses dinilai menjadi solusi yang lebih relevan dibandingkan sekadar berfokus pada prediksi pergerakan pasar.

Strategi ini menekankan bahwa investasi saham bukan hanya aktivitas transaksi, melainkan bentuk kepemilikan terhadap bisnis riil yang harus dianalisis secara fundamental, mulai dari kualitas perusahaan, valuasi, profitabilitas, hingga prinsip margin of safety sebagai bentuk kehati-hatian.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu investor tetap rasional dalam menghadapi fluktuasi pasar yang kerap dipengaruhi oleh dinamika global yang tidak menentu. Co-Founder Recompound lainnya, Toby Limanto, menambahkan bahwa perilaku investor muda saat ini semakin kompleks.

Banyak diantara mereka telah memahami pentingnya investasi, namun tidak memiliki cukup waktu untuk mengelola portofolio secara optimal karena kesibukan utama di bidang pekerjaan atau karier.

“Kami menyebut segmen ini sebagai rational delegator, yaitu investor usia 20–30 tahun yang paham pentingnya investasi, tetapi ingin tetap fokus pada karier utama mereka,” jelas Toby.

Baca juga: Bukan Sekadar Tren, Investasi Berkelanjutan Kini Jadi ‘Kewajiban’ Industri Keuangan

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini