Ringkasan Berita:
- Pengamat ekonomi Andreas Ambesa menilai industri AMDK menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan biaya energi dan distribusi
- Implementasi kebijakan zero ODOL dinilai berpotensi meningkatkan ongkos logistik jika tidak diikuti kesiapan ekosistem transportasi
- Industri juga menghadapi tantangan menjaga harga produk tetap terjangkau di tengah tekanan biaya global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Industri air minum dalam kemasan (AMDK) dinilai tengah menghadapi tekanan berat akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi di tengah dinamika global serta perubahan kebijakan domestik.
Pengamat politik ekonomi Andreas Ambesa menilai pelaku industri saat ini berada dalam posisi yang tidak mudah karena harus menjaga keberlanjutan usaha sekaligus mempertahankan harga produk tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Pelaku industri berada dalam posisi yang tidak mudah karena harus menjaga kesinambungan usaha sekaligus mempertahankan harga tetap terjangkau bagi konsumen,” kata dia dikutip, Sabtu (9/5/2026).
Baca juga: Resmi Dikukuhkan, DPD Amdatara Bali–Nusa Tenggara Siap Perkuat Industri AMDK dan Kepatuhan Regulasi
Menurut Andreas, tekanan dari sisi hulu muncul akibat gejolak geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia.
Kondisi tersebut berdampak pada industri petrokimia, termasuk kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan AMDK.
Di saat yang sama, industri juga menghadapi potensi lonjakan ongkos distribusi akibat implementasi kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL).
Kebijakan zero ODOL yang ditargetkan berlaku penuh pada 2027 diperkirakan menurunkan kapasitas angkut sehingga frekuensi perjalanan distribusi meningkat.
Andreas menilai kebijakan zero ODOL tetap penting untuk memperbaiki tata kelola transportasi dan keselamatan jalan.
Namun, menurut dia, kesiapan ekosistem logistik nasional harus diperhatikan agar tidak memicu gangguan rantai pasok.
“Industri dengan distribusi masif seperti AMDK membutuhkan masa transisi yang terukur agar penyesuaian biaya logistik tidak terlalu drastis,” katanya.
Ia menilai tanpa sinkronisasi kebijakan yang memadai, tekanan biaya dari sisi produksi dan distribusi berpotensi berdampak pada harga produk di tingkat konsumen.
Selain tekanan struktural, Andreas juga menyoroti tantangan industri dari sisi persepsi publik.
Menurut dia, persaingan industri AMDK kini tidak hanya ditentukan kualitas produk dan harga, tetapi juga tingkat kepercayaan konsumen terhadap sumber air dan proses produksi.
Sebelumnya, diskursus mengenai sumber dan kualitas air minum dalam kemasan sempat mencuat setelah kunjungan Gubernur Dedi Mulyadi ke salah satu fasilitas produksi AMDK.
Padahal, sesuai regulasi dan standar industri, sumber air AMDK dapat berasal dari mata air maupun air tanah dalam selama memenuhi ketentuan pengolahan dan pengawasan mutu.
Menurut Andreas, di tengah tekanan biaya global dan transformasi kebijakan domestik, industri membutuhkan kepastian dan sinkronisasi kebijakan agar tetap mampu menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga di masyarakat.
“Keberlanjutan industri AMDK bukan hanya soal bisnis, tetapi juga berkaitan dengan akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Diketahui kontribusi industri AMDK terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah melampaui 1 persen, tepatnya sekitar 1,04 persen.
Baca juga: DPR Soroti Dominasi Asing di Industri AMDK, Padahal Air Melimpah
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari peran strategis sektor ini dalam menopang industri makanan dan minuman—yang selama ini menjadi tulang punggung manufaktur nonmigas Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menegaskan bahwa industri AMDK memiliki posisi vital dalam ekosistem manufaktur nasional.
Selain mendorong pertumbuhan industri pengolahan, sektor ini juga menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di seluruh Indonesia.
Dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen, industri ini selama ini mencerminkan stabilitas sekaligus efisiensi.
Baca tanpa iklan