News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Saham

Waspada, IHSG Hari Ini Berpotensi Melemah Lagi ke Level 6.800, Berikut Faktor Pemberatnya

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG MELEMAH - Pengunjung melihat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Tercatat, pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG berakhir anjlok 2,86 persen ke level 6.969,40.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (11/5/2026) diprediksi kembali mengalami pelemahan.

Tercatat, pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG berakhir anjlok 2,86 persen ke level 6.969,40.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman menjelaskan, bursa Asia pada perdagangan pekan kemarin disebabkan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yakni perang Amerika Serikat dan Iran.

Baca juga: IHSG Mulai Pulih dari Tekanan Ketidakpastian Global, OJK: Investor Ritel Banyak Masuk Pasar Modal

Untuk hari ini, kata Fanny, IHSG berpotensi short term teknikal rebound atau kenaikan harga saham sementara setelah mengalami penurunan tajam, dengan rentang 7.070-7.130.

"Tapi gunakan untuk sell on high (membeli saham saat rendah dan jual lagi saat tinggi) karena IHSG masih rentan kembali koreksi. Support IHSG di kisaran 6.650-6.850 dan resist 7.070-7.130," paparnya.

Hal serupa juga disampaikan VP of Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi yang memproyeksikan, IHSG akan cenderung melemah dalam rentang level support 6.892 dan resistance 7.095.

Audi bilang pergerakan pasar saham akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen. 

Pertama, kekhawatiran dampak usulan revisi Peraturan Pemerintah No 19/2025 terkait kenaikan tarif royalti untuk pertambangan seiring dengan adanya potensi windfall profit akibat kenaikan harga komoditas.

Emas, misalnya, yang tarif dasar diusulkan naik dari 7 persen menjadi 14 persen. 

Sementara tarif efektif tembaga berpotensi naik dari 10 persen menjadi 12 persen dengan asumsi harga rata-rata tembaga 2026 sebesar US$ 12.655 per ton.

“Hal ini cenderung memberikan dampak pada margin emiten related dan di respon negatif oleh pasar secara langsung pada 8 Mei 2026 mendatang,” jelas Audi.

Tak hanya itu, kata Audi, IHSG  juga akan dipengaruhi oleh keberlanjutan geopolitik yang belum mencapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat-Iran karena saat ini masih dalam 30 hari negosiasi komprehensif. 

Menurutnya, kika tidak ada kesepakatan maka kekhawatiran dapat kembali ke eskalasi militer. Terakhir, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi oleh kekhawatiran menyebarnya varian Hantavirus di Indonesia juga cenderung membuat respon pasar reposisi pada emiten kesehatan. 

Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasardana Hans Kwee menambahkan, pasar saat ini juga masih menantikan hasil peninjauan oleh MSCI pada 13 Mei 2025. 

Dia mencermati ada antisipasi pelaku pasar khususnya di saham konglomerasi. 

Mengingat pekan ini perdagangan hanya tiga hari, Hans menilai pelaku pasar akan cenderung mengurangi spekulasi. 

Hans memproyeksikan IHSG menguat dengan support 6.900–6.850 dan resistance di level 7.000–7.207.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini