TRIBUNNEWS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan.
Dikutip dari Bloomberg, nilai tukar berada di level Rp17.658 atau melemah 61 poin pada Senin (18/5/2026) per pukul 09.20 WIB.
Di sisi lain, dengan penguatan dolar AS terhadap Rupiah maka menjadikan nilai tukar mata uang Indonesia menjadi yang terparah sepanjang masa.
Sebelumnya, pada Jumat (15/5/2026) sore, nilai tukar rupiah bertengger di Rp17.596 per dolar AS atau melemah 68 poin (0,39 persen).
Penguatan dolar AS juga terjadi terhadap beberapa mata uang negara lainnya seperti won Korea, yen Jepang, hingga franc Swiss.
Secara lebih rinci, dolar AS menguat 0,57 persen terhadap won Korea. Lalu menguat 0,03 persen terhadap yen Jepang. Kendati demikian, dolar AS melemah meski tipis terhadap dolar Hong Kong yakni 0,01 persen.
Baca juga: Bilang Orang Desa Tak Terdampak Penguatan Dolar AS, Celios Tawarkan Kursus Ekonomi Gratis ke Prabowo
Selain makin lemah Rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mengalami anjlok.
Hingga pukul 10.51 WIB, IHGS merosot hingga 4,26 persen atau 286,7 poin ke level 6.436,62 dari posisi penutupan sebelumnya yakni 6.723,32.
Pergerakan IHSG sejak dibuka pukul 09.00 WIB hingga 10.51 WIB, bergerak pada rentang 6.425 hingga 6.631. Berdasarkan pergerakan tersebut total ada 719 saham anjlok, 71 saham menguat, 169 saham stagnan.
Adapun nilai transaksi mencapai Rp9,48 triliun dengan melibatkan 16,12 miliar lembar saham.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pasar saham masih dibayangi sejumlah faktor eksternal dan internal yang memicu tekanan jual di pasar.
"Sentimen yang membayangi antara lain konflik geopolitik Timur Tengah, potensi foreign outflow pasca rebalancing MSCI, serta pergerakan rupiah terhadap dolar AS," paparnya.
Kondisi tersebut memicu penyesuaian portofolio investor asing dan meningkatkan volatilitas pasar.
Baca juga: Optimalkan Sektor Perdagangan dan Industri, Hubungan Ekonomi Indonesia-Belarus Diperkuat
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, meski aksi jual asing masih terjadi, tekanan yang muncul sejauh ini relatif lebih terkendali dibandingkan kekhawatiran awal pelaku pasar.
"Perkiraan foreign outflow tidak sebesar proyeksi awal karena sebagian pasar sudah lebih dulu mengantisipasi langkah MSCI," kata Alrich.
Ia menambahkan, status Indonesia yang masih bertahan sebagai bagian dari kelompok emerging market turut menjadi penopang sentimen positif bagi investor.
Hal ini dinilai membantu meredam tekanan jual yang lebih dalam di pasar domestik.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Seno Tri)
Baca tanpa iklan