News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Saham

Bursa Saham Berdarah, IHSG Rontok 4 Persen Lebih di Tengah Tekanan Rupiah

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG AMBROL - Pengunjung bermain handphone di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Pusat. IHSG ditutup merosot 4,11 persen atau 254,36 poin ke level 5.941,07 dari posisi penutupan hari sebelumnya 6.195,43.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) berakhir anjlok.

Mengutip Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11 persen atau 254,36 poin ke level 5.941,07 dari posisi penutupan hari sebelumnya 6.195,43.

IHSG pada awal perdagangan pukul 09.00 WIB, dibuka menguat ke level 6.207,10, namun tidak bertahan lama dan sempat anjlok 5 persen lebih.

Baca juga: IHSG Tak Mampu Bertahan di Zona Hijau, Menjelang Siang Ambrol 2,3 Persen ke Level 6.050 

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.842 hingga 6.213.

Hanya 75 saham menguat, 726 saham melemah, dan 158 saham tidak mengalami perubahan harga.

Adapun nilai transaksi investor di pasar saham mencapai Rp25,19 triliun, yang melibatkan 36,24 miliar lembar saham.

Faktor Pemicu IHSG Melemah

Riset PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI) menyampaikan, tekanan pada nilai tukar rupiah yang kini di atas level Rp17.900 per dolar AS membuat IHSG mengalami koreksi tajam.

Sejak awal tahun ini, capital outflow di pasar ekuitas telah menembus Rp66,2 triliun dan berpotensi masih akan membesar jika volatilitas kurs terus berlanjut. 

"Hubungan erat antara stabilitas nilai tukar dengan ekspektasi kinerja emiten berbobot besar membuat pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000 langsung direspons pasar dengan pengurangan posisi portfolio saham secara serentak," tulis riset KISI dikutip Tribunnews.

Selain itu, tekanan IHSG juga berasal dari pengumuman lembaga rating Moody's yang menetapkan rating issuer pertama untuk PT Danantara Investment Management (DIM) di level Baa2, sejajar persis dengan rating sovereign pemerintah Indonesia. 

"Artinya, DIM dilihat pasar global bukan sebagai entitas korporasi biasa, tapi sebagai perpanjangan tangan langsung dari neraca negara," tulisnya.

Rating ini diberikan dengan pendekatan top-down, Moody's tidak menetapkan Baseline Credit Assessment (penilaian kekuatan mandiri) karena DIM masih terlalu baru, belum punya rekam jejak operasional yang berarti, dan hampir seluruh kreditnya bergantung pada dukungan pemerintah. 

Singkatnya, DIM berdiri bukan karena fundamentalnya sendiri, tapi karena negara ada di belakangnya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini