TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp 17.942 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor domestik ketimbang sentimen global.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi kenaikan inflasi di Amerika Serikat, pasar keuangan Indonesia justru menunjukkan pergerakan positif.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dan IHSG saat ini tidak berasal dari faktor eksternal, meski situasi global masih dibayangi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Hari ini rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat. Penguatan mata uang rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan bukan disebabkan oleh masalah eksternal. Kalau kita lihat secara eksternal seharusnya rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan ini mengalami pelemahan," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Rabu (10/6/2026).
Ibrahim menilai penguatan yang terjadi justru merupakan respons positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.
Salah satu faktor utama adalah langkah cepat Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Dengan kenaikan terbaru tersebut, total kenaikan suku bunga BI dalam beberapa bulan terakhir telah mencapai 75 basis poin, menjadi 5,5 basis poin.
"Apa yang membuat rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan di hari ini mengalami penguatan adalah salah satunya adalah Bank Indonesia yang kemarin secara sigap menaikkan suku bunga 25 basis poin. Yang kita lihat bulan sebelumnya itu adalah 50 basis poin. Artinya apa? Sudah 75 basis poin," imbuhnya.
Baca juga: Tak Ada Pergantian Menkeu, Pengamat Tanggapi Rupiah dan IHSG yang Kompak Menguat
Ia memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi melanjutkan siklus kenaikan suku bunga hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan surat utang negara.
Menurut Ibrahim, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang telah mencapai sekitar 7,4 persen juga berpotensi menarik kembali minat investor asing ke pasar Indonesia.
Selain kebijakan moneter, Ibrahim menilai keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Kebijakan tersebut dinilai membantu mengurangi beban subsidi energi yang selama ini membebani anggaran negara.
"Pemerintah juga sudah merespon apa keinginan dari kami sebagai seorang pengamat ekonomi, di mana harga Pertamax sudah dinaikkan," ujarnya.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 18.058 per Dolar AS usai BI Naikkan BI-Rate
Ia mengungkapkan realisasi subsidi dan kompensasi energi dalam lima bulan pertama tahun ini telah mencapai Rp 203,7 triliun atau lebih dari separuh pagu APBN sebesar Rp 381,3 triliun.
Baca tanpa iklan