News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Erwin Aksa: Ruang Fiskal Harus Dijaga di Tengah Berbagai Program Prioritas

Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RUANG FISKAL - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa, mengatakan pada prinsipnya, pelaku usaha juga memiliki perhatian yang sama terhadap keberlanjutan fiskal, efisiensi belanja negara, dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

 

Ringkasan Berita:

  • Pada prinsipnya, pelaku usaha juga memiliki perhatian yang sama terhadap keberlanjutan fiskal, efisiensi belanja negara, dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. 
  • Erwin menjelaskan, dari perspektif dunia usaha, MBG memiliki potensi memberikan multiplier effect yang besar

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menaruh perhatian atas aksi demonstrasi mahasiswa yang memprotes kebijakan pemerintah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih.

Sebagai pelaku usaha, Kadin memahami betul aspirasi mahasiswa terkait APBN, kenaikan harga BBM, dan efektivitas program MBG.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa, mengatakan pada prinsipnya, pelaku usaha juga memiliki perhatian yang sama terhadap keberlanjutan fiskal, efisiensi belanja negara, dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. 

''Namun demikian, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menjaga keseimbangan antara program-program prioritas sosial dengan stabilitas ekonomi makro, sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap investasi, konsumsi, maupun dunia usaha,'' ujar Erwin, Jumat (12/6/2026).

Erwin menjelaskan, dari perspektif dunia usaha, MBG memiliki potensi memberikan multiplier effect yang besar terhadap perekonomian apabila pelaksanaannya melibatkan rantai pasok domestik. Program ini dapat menciptakan permintaan yang stabil bagi sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri makanan dan minuman, logistik, serta UMKM penyedia bahan pangan. 

Demikian pula Koperasi Desa Merah Putih berpotensi memperkuat ekonomi desa apabila dikelola secara profesional, transparan, dan terintegrasi dengan pelaku usaha lokal. Tantangannya adalah memastikan tata kelola, efisiensi distribusi, dan keberlanjutan pendanaannya.

Menurut Erwin Aksa, ruang fiskal pemerintah saat ini tetap perlu dijaga secara hati-hati. Pemerintah menghadapi kebutuhan pembiayaan yang besar untuk berbagai program prioritas, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta perlindungan sosial. 

''Oleh karena itu, disiplin fiskal, optimalisasi penerimaan negara, peningkatan kualitas belanja, dan efisiensi anggaran menjadi sangat penting agar kepercayaan investor dan pasar tetap terjaga,'' katanya.

Erwin bilang, tekanan biaya hidup masyarakat memang mulai dirasakan, terutama setelah kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar yang berdampak pada biaya produksi maupun distribusi. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga daya beli harus terus dijaga. Dunia usaha, khususnya sektor perdagangan, ritel, transportasi, logistik, manufaktur, dan UMKM, tentu akan terdampak apabila terjadi perlambatan konsumsi secara berkepanjangan.

Baca juga: Mahasiswa BEM UI Siapkan Spanduk Demo BBM: Gibran Raka Bullshit, Rupiah Turun Prabowo Kapan?

Kadin memandang pemerintah perlu menjalankan program-program prioritas secara terukur, dengan fokus pada efektivitas dan dampak ekonominya. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga stabilitas harga energi dan pangan, mempercepat deregulasi, meningkatkan kemudahan berusaha, serta memastikan setiap rupiah belanja negara menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata. Dengan demikian, program unggulan dapat berjalan, masyarakat memperoleh manfaat, dan kepercayaan dunia usaha tetap terjaga.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan saat ini adalah keseimbangan antara agenda pemerataan sosial dan agenda pertumbuhan ekonomi. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus saling memperkuat demi menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga: Ketua BEM UI Sebut Mahasiswa Dihalangi Salat Jumat Saat Menuju Lokasi Aksi di Bundaran HI


Aksi Dimulai Selepas Salat Jumat

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi bertajuk ‘Menuju Indonesia Bangkrut’, Jumat (12/6/2026). Pantauan TribunnewsDepok.com, massa mulai berkumpul di Lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI pada pukul 09.00 WIB.

Beberapa mahasiswa tampak membuat spanduk bertuliskan berbagai aspirasi dan tuntutan.

"Gibran Raka Bullshit, #MenujuIndonesiaBangkrut, Rupiah Turun Prabowo Kapan?" demikian tulisan pada spanduk.

Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI Albani Ilmi menjelaskan, massa yang berjumlah sekitar 1.000 orang direncanakan bergerak menuju Bundaran HI untuk menggelar aksi unjuk rasa.

Keberangkatan dijadwalkan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. 

Albani menjelaskan ada ​5 tuntutan utama yang dibawa, sebagai berikut: 

​- Meminta pemerintah menghentikan pemborosan anggaran APBN.

- Menuntut penurunan harga BBM dan harga kebutuhan pokok.

​- Meminta pemerintah memberhentikan program-program populismenya seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Desa Mawar Putih.

- Menuntut penghentian militerisme di ranah sipil.

Meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahan dan menyadari kekeliruan yang telah terjadi.

"Kami melihat bahwa dari sektor fiskal, moneter, dan pasar modal ini, Indonesia sedang menuju krisis ekonomi," kata Albani.

Albani menilai bahwa Indonesia sedang menuju krisis ekonomi dan berada dalam kondisi bahaya, yang dilihat dari tiga sektor utama: fiskal, moneter, dan pasar modal.

BEM UI menuntut agar pemerintah segera mengakui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah terjadi.

Aksi kali ini ditegaskan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai langkah awal untuk memantik semangat perjuangan, pergerakan, serta menyadarkan masyarakat mengenai kondisi bangsa saat ini. 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini