News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus corona

Pandemi Covid-19 Tingkatkan Limbah Medis Beracun dan Berbahaya

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas merapikan tumpukan kantong sampah plastik kuning yang menumpuk di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2021). Sejumlah petugas berpakaian alat pelindung diri (APD) lengkap tiap hari mengumpulkan kantong plastik berwarna kuning yang menumpuk berisikan APD bekas pakai, kardus makanan, dan sejumlah barang pasien yang sudah tidak terpakai. Kemudian tumpukan limbah itu disimpan di ruang khusus Tower 7 RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Sekali angkut, RSD Wisma Atlet bisa mengangkut 2 ton limbah medis corona. Dalam sehari petugas dapat mengangkut 3 kali yaitu pagi, siang, dan malam hari. Tribunnews/Jeprima

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap masalah kesehatan dan ekonomi.

Pandemi Covid-19 juga berdampak terhadap lingkungan karena meningkatnya limbah medis yang tergolong bahan beracun dan berbahaya (B3).

Anggota Direktorat Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Edward Nixon Pakpahan menilai setiap hal yang bersentuhan dengan Covid-19 harus dianggap sebagai benda infeksius.

"Harus dimusnahkan, dibakar," kata dia dalam Pelatihan Penguatan Gerakan Pramuka, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dan Pusat Informasi Nasional Gerakan Pramuka, Sabtu, (28/8/2021).

Edward mengatakan, ada kenaikan limbah medis hingga 30 persen per hari selama pandemi berlangsung.

Baca juga: Pemerintah Soroti Kenaikan Kasus Covid-19 di Aceh

Sebelum pandemi, rata-rata dihasilkan 400 ton limbah medis per hari.

Sehingga selama pandemi ini, limbah medis meningkat menjadi 520 ton per harinya.

Untuk penanganannya, Kementerian LHK membangun insinerator di berbagai daerah sejak tahun lalu.

Pembangunan berbagai insinerator tambahan itu bisa memusnahkan total 150 ton limbah medis per hari.

"Covid-19 ini berbahaya, semua yang terkait harus ditangani serius. Masker, sekalipun tidak dipakai orang terpapar, harus ditangani dengan baik," kata Edward.

Menurutnya, masker menjadi salah satu sumber limbah medis paling banyak.

Baca juga: Kasus Baru Covid-19 di India Kembali Melonjak ke Level Tertinggi

Sebab, masker tidak hanya dipakai di lingkungan yang ada pengidap Covid-19.

Karenanya masker yang sudah dipakai wajib dipotong dan disemprot dengan cairan disinfeksi.

Setelah itu, baru dikemas secara aman sebelum dibawa ke tempat pemusnahan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini