TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengingatkan jemaah Indonesia untuk menjaga kesakralan ibadah haji selama di Tanah Suci.
Baca juga: Prabowo Pastikan Jemaah Haji & Umrah Indonesia di Makkah Dapat Hunian Layak Melalui Kampung Haji
"Haji adalah momen yang sakral, ibadah yang terjadi sekali dalam kehidupan jemaah. Walaupun masih ada beberapa yang sudah beberapa kali, tapi mayoritas ibu bapak adalah baru sekali ini akan ibadah haji," ujar Gus Irfan pada Bimbingan Manasik Haji Nasional di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dia mengingatkan agar jemaah menghindari perbuatan dan perdebatan yang tidak perlu selama berhaji.
Menurutnya, perdebatan yang kerap muncul saat berhaji beragam, mulai dari hal sepele hingga persoalan fikih.
"Yang paling ringan berdebat tentang harga sajadah. ‘Saya beli sajadah 10 riyal. 'Oh saya beli 12 riyal.' 'Saya beli 8 riyal, bagus punya saya,’ itu berdebat ringan. Yang harus benar-benar kita hindari adalah berdebat tentang fikih," ujarnya.
Selain itu, dia juga meminta jemaah tidak melakukan perdebatan politik selama menjalankan ibadah haji.
Menurutnya, perdebatan itu tidak ada hubungannya dengan ibadah haji.
"Apa perdebatan lain lagi? Nah, perdebatan politik biasanya. Ada yang nggak suka dengan pemerintah, ada yang suka dengan sana, ada yang suka sini, mohon dihindari ya Pak. Itu perdebatan yang tidak perlu dan tidak ada hubungannya dengan haji kita," katanya.
Gus Irfan menyadari latar belakang sosial, budaya, dan politik jemaah sangat beragam.
Meski begitu, dirinya meminta seluruh calon jemaah fokus pada ibadah dan menjaga kekhusyukan.
"Pemahaman kultur yang bermacam-macam, pemahaman politik yang berbeda-beda, dan pemahaman sosial yang berbeda-beda sehingga tidak perlu kita berdebat soal-soal itu yang tidak perlu yang akan mengganggu kehidupan perjalanan ibadah kita," katanya.
Selain menghindari perdebatan, ia juga menekankan pentingnya kemandirian jemaah dalam beribadah.
Manasik, kata Gus Irfan, menjadi bekal agar jemaah tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain.
"Kita berharap jemaah haji kita bisa benar-benar mandiri, tidak tergantung kepada orang lain, tidak tergantung kepada KBIHU, tidak tergantung pada teman yang lain, paling tidak minimal tergantung pada kelompoknya saja," ujar Gus Irfan.
Ia juga meminta agar materi manasik memasukkan aspek kesehatan, mengingat haji merupakan ibadah fisik yang membutuhkan stamina prima.
Baca tanpa iklan