Setelah shalat subuh, ia berangkat menabung. Jumlahnya kecil, tapi dilakukan dengan rutin.
Tahun demi tahun berlalu, hingga pada tahun 2013, tabungannya genap mencapai Rp23,5 juta, cukup untuk mendaftar haji dan mendapatkan nomor porsi.
Selama masa tunggu itu, ia tetap menabung. Hingga akhirnya, panggilan ke Baitullah itu datang juga setelah 12 tahun menanti.
"Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini," ucapnya dengan suara bergetar.
Saat menceritakan momen pertama kali melihat Ka'bah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia bahkan sempat menahan napas, seolah mengulang kembali detik itu.
"Bisa cium Ka'bah, Hajar Aswad, terus dijagain mutawwif-nya. Demi Allah, rasanya bersyukur banget, ya Allah, ya Allah," katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Baca juga: Menhaj Minta Petugas Haji Doakan Kesehatan Presiden Prabowo di Tanah Suci
Air matanya jatuh lagi. Ia mengusapnya dengan kedua tangan.
Di Madinah, ia juga merasakan kebahagiaan yang tak kalah dalam. Ia bisa masuk Raudhah hingga empat kali, sebuah kesempatan yang tak semua jemaah dapatkan.
Nunung yang pernah menjadi guru TK juga mengatakan, perjalanan ibadahnya tidak selalu mudah.
Kakinya sempat sakit. Namun di tengah keterbatasan itu, ia hanya punya satu doa sederhana: tidak merepotkan orang lain.
"Saya berdoa jangan nyusahin orang lain di sini, Alhamdulillah Allah dengar doa saya," kata dia.
Nunung mengaku berangkat haji seorang diri. Oleh karena itu, saat di depan Ka'bah, ia berdoa agar bisa kembali lagi, tapi kali ini bersama suami dan anak-anak.
"Saya berdoa suatu hari nanti, suami dan anak-anak bisa umrah, bisa ngerasain tawaf, sai, menikmati kehidupan di Makkah, Madinah, dan masuk ke Raudhah," pungkasnya. (*)
Baca tanpa iklan