Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Disorientasi dan demensia kerap dianggap sama karena sama-sama ditandai dengan kebingungan dan gangguan daya ingat.
Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, meski dalam beberapa kasus bisa muncul bersamaan.
Demikian disampaikan dokter spesialis kesehatan jiwa yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Rismayanti SpKJ kepada tim Media Center Haji (MCH), Kamis (14/5/2026).
"Disorientasi adalah kondisi ketika seseorang mengalami kebingungan terhadap waktu, tempat, atau orang di sekitarnya," katanya.
Ketika mengalami disorientasi, jemaah haji tidak mengetahui sedang berada di mana, lupa hari/tanggal, atau tidak mengenali orang di sekitarnya.
Pada jemaah haji lansia yang baru tiba di Makkah, lanjut dr Rismayanti, cuaca ekstrem, kelelahan fisik, hingga perubahan lingkungan dapat memicu munculnya disorientasi.
Beberapa pemicu terjadinya disorientasi pada jemaah haji antara lain:
- kelelahan
- infeksi
- demam
- dehidrasi
- kurang tidur
- efek obat
- stres lingkungan baru seperti saat berhaji
Baca juga: Pentingnya Menjaga Lisan saat Ibadah Haji agar Meraih Haji Mabrur
"Oleh karena itu, disorientasi lebih dikenal sebagai gejala kebingungan yang bersifat sementara," kata dia.
Sementara itu, demensia merupakan gangguan penurunan fungsi otak yang bersifat kronis dan progresif.
Tidak hanya lupa, demensia juga mempengaruhi:
- daya ingat
- kemampuan berpikir
- komunikasi
- perilaku
- aktivitas sehari-hari.
"Contohnya pada demensia Alzheimer, pasien bisa mengalami disorientasi juga, tetapi penyebab dasarnya adalah proses penurunan fungsi kognitif yang berlangsung lama," ungkapnya.
Ia menekankan, diisorientasi adalah gejala kebingungan, sedangkan demensia merupakan penyakit/gangguan kognitif kronis.
"Jadi tidak semua disorientasi berarti demensia," tegas dr Rismayanti. (*)
Baca tanpa iklan