News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Minyak Dunia Naik karena Rapat The Fed dan Situasi Libya

Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Harga minyak dunia naik, Senin (16/12/2013), karena para investor menanti kebijakan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat pada pekan ini. Kenaikan harga minyak dunia juga dipicu situasi politik di Libya.

Kontrak utama West Texas Intermediate (WTI) di New York, Amerika Serikat, naik 81 sen menjadi 97,41 dollar AS per barel untuk pengiriman Januari 2014. Sementara harga minyak mentah Brent North Sea di London, Inggris, untuk pengiriman Januari 2014 naik 1,69 dollar AS per barel menjadi 110,52 dollar AS per barel.

Investor menanti pertanda tentang pelaksanaan pengurangan stimulus (tapering) The Fed. "Investor menunggu penilaian (The Fed) tentang situasi ekonomi Amerika dan bagaimana pengaruhnya untuk rencana terkait stimulus," kata analis Fat Prophets, David Lennox, kepada AFP.

Pasar menanti apakah rapat FOMC kali ini akan menentukan waktu pelaksanaan tapering dari stimulus yang sejak 2008 mengucurkan 85 miliar dollar AS untuk membeli obligasi negara. Kekhawatiran tapering akan segera dilakukan antara lain didukung membaiknya serangkaian data perekonomian Amerika, termasuk penurunan tajam angka pengangguran.

Bila tapering dilakukan, nilai tukar dollar AS dipastikan akan menguat, harga minyak pun bakal lebih mahal bagi negara yang tak menggunakan greenback sebagai alat tukar, dan permintaan pun dengan sendirinya akan berkurang.

Kenaikan harga Brent, patokan harga minyak untuk Eropa, juga dipicu aksi pengunjuk rasa bersenjata ke kilang minyak penting di kawasan timur negara itu, Minggu (15/12/2013). Seharusnya terminal itu diserahkan ke Pemerintah Libya pada Minggu.

Unjuk rasa dan pemblokiran pengiriman minyak tersebut dilakukan oleh suku minoritas Berber . Aksi itu memangkas 250.000 barel produksi minyak Libya per hari, dari angka normal hampir 1,5 juta barel per hari.

"Berita dari Libya bahwa para pemberontak tidak bersedia menyerahkan terminal ekspor di timur negara itu kembali ke pemerintah memberikan dukungan untuk (kenaikan harga minyak di bursa) Brent," kata memo analis Commerzbank.(Palupi Annisa Auliani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini