News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pembuat Pistol Cetak 3D Ditangkap Polisi

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Yoshitomo Imura (28) pembuat pistol 3D yang ditangkap polisi 16 Juni lalu karena melanggar UU Pengendalian Senjata Api Jepang.

Laporan Richard Susilo, Koresponden Tribunnews.com di Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pertama kali dalam sejarah Jepang, pembuat pistol (senjata api) dari printer 3D, Yoshitomo Imura (28) akhirnya ditangkap polisi perfektur Kanagawa, Senin (16/6/2014). Imura dianggap melanggar UU Pengendalian Senjata Api yang dapat meluncurkan peluru tajam dan membahayakan manusia, dengan hukuman sangat berat.

Demikian diungkapkan polisi Kanagawa kepada pers hari ini.

"Imura yang pegawai, staf dari Institut Teknologi Shonan telah kami tangkap karena membuat pistol atau senjata api yang dapat menembakkan peluru tajam, tanpa izin, sesuai UU pengendalian senjata api. Kemungkinan dia akan mendapat hukuman berat akibat perbuatannya tersebut," ungkap polisi.

Printer 3D memang telah menyebar luas di Jepang dan dapat dibeli siapa pun bagi yang punya uang banyak. Menggunakan printer 3D bisa membuat barang yang kita inginkan, misalnya cover ponsel iPhone, sarung tangan, dan berbagai benda lain, dengan mudah.

Kejadian ini pertama kali di Jepang karena pembuatan pistol menggunakan printer 3D dan hasilnya memang pistol tersebut bisa digunakan layaknya seperti pistol yang sesungguhnya. Dapat menembakkan menggunakan peluru tajam sehingga dapat membahayakan manusia.

Imura membuat pistol di rumahnya sendiri di daerah Takatsu-ku, Kawasaki, sekitar 40 menit berkereta api dari Tokyo.

Penyelidikan sebenarnya dilakukan polisi pada bulan Februari setelah polisi melihat rekaman video yang menunjukkan Imura memamerkan pistol itu di internet.

Pistol cetak 3D pertama di dunia berhasil ditembakkan di AS pada pada bulan Mei 2013 oleh grup bernama Defense Distributed, yang membagi cetak birunya di internet. Namun Departemen Luar Negeri AS langsung meminta grup tersebut menghapus cetak biru itu dari website mereka.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini