"Ke Malaka saya sudah 36 kali sudah sejak saya bangun ini, dan ke Penang sudah lebih dari 10 kali dan saya juga riset ke tempat-tempat yang tua ke Lasem, Palembang dan dalam negeri juga, nah saya cari historical link nya , jadi dari jejak bangunannya dan saya lihat jejak bangunannya sama dengan yang ada di Malaka pada abad 17 akhir 18," jelas Udaya.
Seorang pemandu tengah menjelaskan ornamen di ruang makan di Museum Benteng Heritage kepada pengunjung.
Relief yang bercerita tentang kisah Jenderal Kwang Kong yang merupakan bagian dari legenda Sam Kok.
Dia berupaya untuk mengembalikan karakter asli bangunan tersebut, dan tidak mengganti bagian dari bangunan. Sebagai contoh, keramik yang menutupi lantai asli bangunan tersebut berupa tegel kemudian dibongkar.
Di salah satu bagian bangunan terdapat semacam ukiran dari pecahan keramik, yang bercerita tentang seorang tokoh dalam legenda Sam Kok, yaitu Jenderal Kwang Kong yang dikenal oleh masyarakat di negeri Cina dengan sifat yang jujur, gagah dan berani.
Udaya mengatakan masuk dulu merupakan tempat tinggal, tetapi dia menduga bangunan ini awalnya didirikan sebagai rumah komunitas Tionghoa karena terletak di bagian belakang klenteng.
Dari kebaya sampai perabot
Setelah upaya restorasi, Udaya mengisi bangunan ini dengan berbagai koleksi, antara lain, kebab encim, berbagai macam timbangan, uang kuno, serta perabot tua. Dia mendapatkan benda-benda dengan berbagai cara.
"Setiap keping ini saya dapatkan mulai saya beli sendiri, saya dapat dari masyarakat atau bahkan saya lihat menggeletak di gudang," jelas Udaya kemudian menunjukkan sebuah meja dengan hiasan lukisan dari kerang.
Meja ini didapat dari sebuah gudang milik rekannya dalam kondisi sudah rusak berkeping-keping. Udaya kemudian merestorasinya selama enam bulan, kemudian diketahui meja yang berasal dari Cina ini diduga sudah berada di Indonesia sejak 200 tahun lalu.
Sepatu tradisional perempuan Tionghoa dipamerkan di museum.
Sejumlah timbangan kuno merupakan koleksi Museum Benteng Heritage.
Di sebuah ruang khusus di lantai dua, Udaya menyimpan koleksi kamera dan gramafon tua, serta piringan hitam langka, antara lain lagu genjer-genjer yang dinyanyikan Bing Slamet dan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman yang direkam pada tahun 1950an yang sempat diperdengarkan sore itu.
Mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Nurul Huda mengatakan Museum Benteng Heritage ini, sudah menjadi salah satu cagar budaya di kawasan Pasar Lama Tangerang.
Pasar Lama merupakan cikal bakal Kota Tangerang.
Baca tanpa iklan