News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mahfud MD: Dakwah Kita Meng-Indonesiakan Islam, Bukan Meng-Islamkan Indonesia

Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Konjen RI di Melbourne Dewi Savitri Wahab (kelima dari kiri) beramah-tamah dgn Pimpinan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-UII), antara lain, mantan Ketua MK Mahfud MD, Gubernur Bengkulu Rdwan Mukti, Ketua LPS Halim Alamsyah, dan Mantan Rektor UII Edy Suandi Hamid.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Melbourne

TRIBUNNEWS.COM, MELBOURNE - Rupanya sampai kini masih ada yang salah mengartikan dakwah.

Yang benar adalah dakwah meng-Indonesiakan Islam, bukanlah meng-Islamkan Indonesia.

"Tugas kita dalam berdakwah dan mensyiarkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin adalah meng-Indonesiakan Islam dan bukan mengislamkan Indonesia," tekan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2011, Prof Dr Mohammad Mahfud MD khusus kepada Tribunnews.com Sabtu ini (22/4/2017).

Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-UII) yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengungkapkan saat melantik Pengurus IKA-UII Cabang Australia Sabtu ini (22/4/2017) di Melbourne.

Menurut Mahfud antara mengindonesiakan Islam dan mengislamkan Indonesia itu berbeda.

"Mengindonesiakan Islam artinya menyebarkan Islam secara damai melalui relung-relung budaya serta akulturasi melalui proses saling memberi dan menerima. Sedangkan mengislamkan Indonesia lebih terkesan memaksakan dan kooperatif sehingga berwatak eksklusivisme."

Mengindonesiakan Islam, tambahnya lagi, melahirkan inklusivisme dan toleransi yang dibarengi pluralisme seperti yang ditempuh Nabi Muhammad saat mendirikan negara Madinah.

"Saat membangun Negara Madinah Nabi Muhammad tidak mendirikan Darul Islam (Negara Islam) tetapi mendirikan Darus Salam (Negara Kedamaian dan penuh toleransi)," tekannya lagi.

Mahfud mengingatkan bahwa pada peresmian UII tanggal 8 Juli 1945 Ketua Cuo Sangiin yang 40 hari kemudian menjadi Presiden RI yang pertama Bung Karno, mengatakan agar UII menyiapkan kader bangsa dari kalangan umat Islam yang bisa berkhidzmah untuk membangun Indonesia sebagai negara yang merdeka dan maju.

"Menurut saya yang dikatakan oleh Bung Karno saat itu adalah persenyawaan antara ke-Indonesia-an dan keislaman dalam hubungan yang harmonis dan tidak antagonis.

Itulah sebabnya, tekannya lagi, Indonesia didirikan sebagai negara berketuhanan yang bukan negara agama dan bukan negara sekuler, kata Mahfud.

Universitas Islam Indonesia (UII), semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), didirikan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 1946 oleh mantan Wapres Mohammad Hatta.

Bung Karno sebagai Ketua Cuo Sangiin (Parlemen zaman Penjajahan Jepang) dan Ketua Panitia Persiapan Kenerdekaan Indonesia (PPKI) hadir dan berpidato pada peresmian Universitas tersebut.

Ketika Ibukota dan Pemerintah Republik Indonesia berpindah ke Yogya karena agresi Belanda pada Maret 1946 maka UII ikut berpindah ke Yogyakarta.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini