Pesawat ruang angkasa Cassini melakukan penjelajahan pertama dari 22 kitaran antara Saturnus dan cincin-cincin spektakulernya dalam misi terakhir pada 20 tahun ini untuk mengungkap berbagai pertanyaan planet kedua terbesar di tata suraya ini.
Misi Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA) ini mengitari planet Saturnus dengan menggunakan antena besar sebagai pelindung dari bebatuan dan pecahan es.
Pesawat ruang angkasa ini bergerak cepat sehingga benturan dengan batuan kecil sekalipun dapat menimbulkan kerusakan besar.
Kitaran Cassini ini akan menghasilkan gambar-gambar dan data untuk memecah misteri planet sebelum hancur pada September mendatang dengan melebur di atmosfer Saturnus.
- Penemuan tujuh planet seukuran bumi: adakah makhluk di sana?
- Ilmuwan temukan atmosfer di planet mirip Bumi
- Dicari, 24 pria untuk tidur 60 hari dengan honor Rp200 juta
Perjalanan sulit antara Saturnus dan cincin-cincinya dilakukan dengan kecepatan lebih dari 110.000 kilometer per jam dan berlangsung pada Rabu (26/04) pukul 15:00 WIB.
Cassini dilengkapi dengan antena yang diarahkan berlawanan dari Bumi saat mulai pengitaran. Akibatnya, Cassini tak akan terdeteksi oleh kontak radio paling tidak 20 jam setelah kitaran pertama dan paling cepat dapat terdeteksi serta mulai melepas data baru pada Kamis (27/04) pukul 13:05 WIB.
Saturnus 'tersenyum'
Mesin pencari Google merayakan momen ini dengan memasang animasi Google doodle dengan wahana ruang angkasa tengah memotret berbagai penjuru saat melewati Saturnus yang 'tersenyum.'
Bila penjelahaan berhasil, 21 putaran lain akan dilakukan dalam lima bulan ke depan sebelum Cassini dihancurkan. Bahan bakar yang tersisa tinggal sedikit dan Cassini tidak dapat melakukan misi lebih lama lagi.
NASA menyebut penjelahan di antara Saturnus dan cincin-cincinnya ini sebagai "grand finale" atau "final besar" karena ambisi mereka untuk mengeluarkan gambar-gambar dan data sains terkait sejarah pembentukan planet besar ini.
"Kita akan mengakhiri misi ini dengan melakukan pengukuran baru - sejumlah data baru yang mengagumkan," kata Athena Courtenis dari Paris Observatory di Meudon, Prancis.
"Kami memperkirakan akan mendapatkan komposisi, struktur dan dinamika atmosfer serta informasi fantastis tentang cincin-cincin."
Usia cincin-cincin Saturnus
Tujuan utama adalah menentukan ukuran massa dan juga umur cincin-cincin Saturnus. Semakin besar massa menunjukkan usia cincin, yang mungkin setua Saturnus itu sendiri.
"Sebelumnya, kami tidak dapat menentukan massa cincin-cincin karena Cassini terbang di luar arena cincin," kata Luciano Iess dari Universitas Sapienza, Roma, Italia.
Namun mengetahui ukuran massa tidak dapat segera mengetahui usia cincin, kata Nicolas Altobelli, ilmuwan di mitra NASA dalam misi ini, Europan Space Agency (EPA).
"Kita masih perlu mengetahui komposisi cincin. Cincin terdiri air murni, es. Bila usianya tua dan terbentuk pada saat yang bersamaan dengan Saturnus, mengapa cincin masih terlihat masih segar walaupun sering dibombardir materi meteor?" kata Altobelli.
Salah satu kemungkinan adalah cincin itu masih sangat muda, dan mungkin merupakan pecahan komet raksasa yang berada terlalu dekat dengan Saturnus dan terpecah-pecah.
Baca tanpa iklan