TRIBUNNEWS.COM - Perang Amerika Serikat (AS)–Israel vs Iran dimulai pada 28 Februari 2026 telah memasuki hari ke-100, Minggu (7/6/2026).
Upaya untuk mencapai kesepakatan damai sampai hari ini masih menggantung.
Di balik kebuntuan itu, Washington dan Teheran disebut sudah beberapa kali hampir mencapai titik kesepakatan sebelum kembali gagal di detik akhir.
Konflik ini berawal dari Operasi Epic Fury, kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 kemarin.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta aset militer Amerika di kawasan Teluk, kemudian memperluas eskalasi ke berbagai front regional.
Meski intensitas perang menurun setelah gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026, jalur diplomasi tetap rapuh.
Negosiasi damai yang digelar di Islamabad pada 11–12 April 2026 kemarin menjadi momen paling dekat kedua negara untuk kembali ke meja kesepakatan sejak Revolusi Iran 1979.
Delegasi AS saat itu dipimpin Wakil Presiden AS, JD Vance bersama utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden AS, Donald Trump.
Sementara Iran diwakili Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan pejabat keamanan nasional Ali Bagheri Kani.
Menjelang pertemuan, pihak Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset luar negeri menjadi syarat penting.
Pembicaraan itu berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam negosiasi.
Baca juga: Perang Iran Hari ke-100 : 7.000 Orang Tewas, Harga BBM Naik di 146 Negara
“Berita baiknya kami berdiskusi secara substantif, berita buruknya kami belum mencapai kesepakatan,” kata JD Vance usai pertemuan di Islamabad.
Ia menegaskan Washington menginginkan jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir, bukan hanya dalam jangka pendek tetapi juga jangka panjang.
Kendati demikian, menurutnya, Teheran belum memberikan komitmen tersebut.
Baca tanpa iklan